Praaang!! Kaca mobilku pecah akibat aku menghantam tiang pembatas jalan, aku terpaksa membanting setirku akibat rem mobilku tiba-tiba saja blong. Serpihan kaca itupun mengenai lenganku yang kubuat untuk tameng diwajahku, jantungku yang berdetak sangat cepat membuat rasa sakitnya tidak begitu terasa, meski sudah terlihat ada darah segar yang mengalir turun di sikutku.
Aku sungguh sangat takut, aku kira ini adalah ajalku. Tubuhku gemetar sangat hebat, bahkan untuk membuka pintu mobil tanganku sudah tak bertenaga lagi. Pandangan ku mulai kabur, tapi aku masih bisa melihat ada mobil lain yang berhenti berhadapan denganku dijarak yang tidak begitu jauh. Alih ingin meminta tolong, mobil itu malah menghadang pandangan ku dengan menyorotiku lampu tembaknya. Membuat aku tak bisa melihat dengan jelas kearahnya, aku mencoba melambaikan tanganku dengan mata sedikit terbuka, memberi isyarat bahwa aku membutuhkan pertolongannya. Orang dimobil itu pasti melihat jelas kondisi mobilku yang mungkin sudah terlihat ringsek, namun alih-alih menolong orang itu malah menancapkan gasnya dan melaju dengan cepat ke arahku. Terlihat dengan jelas ia sengaja ingin menabrakkan kedua mobil kami dan...
Brukk!!!
"Hhhh..haaa!" Raya terbangun dari mimpi itu. "Kamu mimpi itu lagi?" Tanya Zain yang ikut terbangun, sembari memelu Raya dengan perasaan yang ikut cemas. Raya hanya bisa mengangguk kecil, ini memang bukan pertama kalinya ia memimpikan hal itu, dari kecelakaan yang menimpanya 6 bulan lalu Raya terus saja dihantui rasa trauma dimalam kejadian naas tersebut.
"Kamu jangan takut, ada aku disini. Semua akan baik-baik saja, mimpi itu juga akan segera hilang dengan sendirinya, bersabarlah.." seru Zain menenangkan Raya yang sudah terlihat pucat pasi. Di tengah ketakutannya, Raya meraih tangan Zain yang dibalut plester dan menggenggam nya dengan tatapan sendu.
"Kamu jangan sakiti diri kamu lagi, ya.." ucap Raya dengan lirih, seolah melihat luka ditangan Zain membuat hatinya ikut terluka pula. "..cukup Zain jangan lagi" kini mata Raya sudah mulai berkaca-kaca. Tanpa kata Zain kembali memeluk Raya dengan erat, perasaan nya ikut hancur melihat tiap kali Raya terbangun dengan wajah pucat dan keringat jagung dengan ekspresi ketakutan. Zain seolah menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada wanita yang sangat ia cintai tersebut, tiap kali mimpi buruk itu dialami Raya, tiap itu juga Zain melukai tangannya sendiri dengan meninju dinding dengan keras berkali-kali sehingga membuat punggung jari jarinya terluka. Sebagai bentuk penyesalan dirinya karena tak bisa menjaga Raya dengan baik.