Di ruangan kerja, Zain melihat Raiya duduk dimejanya dengan terus mengelus dahinya. Wanitanya itu terlihat begitu kusut, melihat itu Zain pun menghampiri nya dengan membawa secangkir teh hangat.
"Sudah malam, lanjutkan besok saja" seru Zain, sedikit mengejutkan Raiya. "Ah.. emangnya sudah jam berapa?". "Gak penting udah jam berapa, kalau kamu sudah merasa lelah yaa istirahat, sayang. Jangan dipaksakan" ucap Zain sambil menyodorkan teh yang ia bawa, Raiya pun menyeruput teh itu . "Gak, kok. Aku cuma gak enak badan aja, akhir akhir ini aku selalu merasa pusing" . "Kamu sakit?" Spontan Zain memegang kening Raiya. "Dah aku bilang ayo periksa, kamu terus ngeyel. Liat jadi gini, kan!" Ucap Zain sedikit kesal.
"Aku cuma kecapean aja mungkin, kamu gak usah khawatir" ucap Raya dengan senyuman capeknya. "Ya, sudah. Ayo kita tidur, kamu harus istirahat sekarang. Kali ini jangan membantah" Raya tersenyum membiarkan tubuhnya digendong Zain.
Setelah memapah tubuh Raiya keranjang, Zain mengambil gawainya yang berada diatas nakas. Ia mengecek untuk melihat apa Kim sudah membalas pesannya, sikap Kim akhir akhir ini sungguh membuat Zain cemas. Ia takut wanita itu melakukan hal-hal yang bisa membahayakan nya.
Gerak gerik Zain itu terlihat oleh Raiya,ia melihat wajah Zain berubah seketika setelah ia membuka gawainya. "Katanya mau tidur?" Sindir Raya. "Ah, iya..aku cuma ngecek notif aja, kok." Serunya sembari meletakkan gawainya di atas nakas. Ia pun menarik selimut dan mencoba memejamkan matanya, Zain tak ingin Raya semakin mencurigai nya. Raya yang sudah terlanjur merasa lelah memilih untuk membiarkan nya, walaupun sebenarnya ia ingin sekali bertanya notif apa yang sedang di tunggu Zain larut malam begini. Tapi rasa capeknya malah membuatnya terlelap dalam sekejap.
________
Keesokan harinya...
"kenapa kita kesini Zain?" Tanya Raiya heran
"Aku perhatikan kamu sering merasa pusing, aku ingin memastikan sesuatu, ayo kita masuk!"Ucap Zain sembari menuntun Raiya masuk kesuatu ruangan yg ada dirumah sakit.
Raiya yg masih bingung dan belum sadar hnya bisa menurut.
"Selamat siang dokter Sonya ".Seru Zain dengan wajah bersinar.
"Siang...eh kalian, silahkan.."? Balas Sonya sambil mempersilahkan mereka masuk.
"Dokter, pasien anda satu ini sering merasakan pusing, coba dokter periksa apakah diaa...?" Zain menatap Sonya penuh isyarat sambil melirik kearah Raiya.
Sonya menangkap isyarat itu dengan baik, Sonya pun tersenyum sambil menyuruh Raiya untuk berbaring.
Sebaliknya Raiya yg masih tidak menyadari maksud keduanya, merasa sangat bingung dengan gelagat suami dan dokternya saat ini.
"A-apa? Kenapa aku harus berbaring? A aku tidak sakit, Zain?" Ucapnya masih bingung.
"Sudah berbaring saja, nanti juga kamu tau" seru Zain sedikit jahil.
"Tidak apa-apa Raiya, sini biar saya periksa dulu." Seru Sonya ikutan.
Raiya yg belum bisa membaca situasi itu, akhirnya menuruti apa yg mereka mau.
Dokter Sonya memeriksa bagian perut Raiya sembari tersenyum kecil.
"Bagaimana dokter?" Tanya Zain antusias.
Dokter Sonya hanya mengangguk kecil sambil terus tersenyum. Seakan memahami jawabannya Zain langsung memeluk Raiya dengan girang nya.
"Sudah aku duga sayang" ucap girang Zain dengan memeluk erat Raiya.
Raiya yg masih bingung merasa aneh berada ditengah-tengah mereka, apa yg sebenernya terjadi dengan mereka?
"Tu tunggu dulu, apa ini? Kamu kenapa? Emm maksudnya aku kenapa? Kok kamu kesenangan begitu?.. Zain katakan ada apa?" cerca Raiya gregetan.
Zain terus tersenyum kegirangan, ia benar benar merasa bahagia sampai sampai tak bisa menjawab pertanyaan Raiya.
"Selamat Raiya, kamu hamil" seru dokter Sonya mewakilkan.
Ditengah-tengah kebingungan nya Raiya terdiam mendengar berita tersebut. Ia memandangi perutnya dan mengelusnya seakan memastikan apa yg dikatakan sang dokter.
"Hamil??"
Rasa penat yg beberapa hari ini ia rasakan, terasa melayang terangkat. Kabar gembira itu membuatnya teralihkan dari semua kepenatan itu.
Iya tersenyum lebar kearah Zain, ia tak menyangka Zain sangat memperhatikan keadaan nya selama ini. Ia melakukan hal yg ia sendiripun tak pernah memikirkan nya. Raiya tak pernah berpikir bahwa rasa pusing yg ia alami ini adalah gejala dari orang hamil. Karena selama ini ia pikir gejala itu adalah efek dari kecelakaan atau dikarenakan masalah yg beberapa hari ini sedang ia hadapi.
"Selamat sayang sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu" ucap Zain sembari mengecup kening Raiya.
Raiya memeluk erat Zain Sakin merasa bahagianya.
Untuk memastikan lebih lanjut, dokter Sonya melakukan USG. Benar saja kandungan Raiya sudah berjalan 3 Minggu, mereka sangat bahagia saat melihat ada benih cinta mereka yg tumbuh diperut nya. Mereka tidak menyangka akan secepat ini menjadi orang tua.
Kehamilan ini membuat Raiya merasa legah, ia tak begitu memikirkan persoalan MBV lagi. Ia yakin papa nya tidak akan mengubah sudut pandangnya terhadap Zain. Karena mereka akan memberikan pewaris tunggal di keluarga Abarra. Ini akan menjadi berita yg sangat besar untuk mereka.
____________________
"Kamu harus banyak banyak istirahat, mulai sekarang kamu dirumah aja. Urusan kantor biar aku yg urus, kamu hanya memeriksa nya dari rumah. Aku akan menyuruh Aslan buat melaporkan semua kegiatan kantor sama kamu"Cerca Zain penuh perhatian.
Zain juga menegaskan bahwa ia tidak akan melakukan kesalahan lagi yg akan membuat mood Raiya buruk.
Karena sepengetahuan nya mood wanita hamil terkadang bisa tidak terkontrol , itu sebabnya Zain memaklumi semua sikap dingin Raiya belakangan hari ini.
"Iyaa sayang, tapi kamu janji jangan lama-lama dikantor. Aku mau ditemani kamuu" balas Raiya dengan bergelayut dilengan Zain.
Zain mengelus kepala Raiya dengan lembut, ia senang Raiya nya yg manjah kini telah kembali. Apalagi sekarang Raiya sedang mengandung anaknya ia semakin memantapkan untuk segera menuntaskan pekerjaan nya dan fokus merawat Raiya.
"Iya sayang..aku pergi ya, kamu hati hati dirumah hubungi aku jika terjadi sesuatu , oke?"
"Okee, pulang kamu kita ketempat mama ya aku ingin menyampaikan kabar gembira ini ke mereka" sahut Raiya dengan senyum lebarnya.
"Iya sayang, terserah kamu saja "
Zainpun pergi kekantor dengan tenang, pasalnya ia sudah menyuruh asisten rumah tangga nya buat stay dirumah selama kehamilan Raiya. Selama ini mereka tidak mengijinkan ART buat tinggal dirumah dengan alasan privasi. Mereka akan pergi setelah mereka menyelesaikan semua tugas mereka, tapi kali ini Zain menyuruh mereka untuk tinggal disana agar bisa menjaga Raiya selama dirinya tidak ada dirumah.
Tengah asik menikmati kesantaiannya dirumah, tiba tiba bel rumah berbunyi.