LOVE MIRACLE

Mega permata sari
Chapter #6

Bab 6 #Cermin itu mulai retak

Aslan terus menatap kearah spion kaca kemudi, ia tak henti memandangi Raiya yg sedang berada dibelakangnya.

Raiya terlihat sangat kacau, meski ia menggunakan kacamata hitam namun Aslan tahu ia baru saja menangis yg membuat matanya sembab.

Sepanjang perjalanan Aslan terus fokus kejalan dan sesekali mencuri pandangan menatap kearah Raiya lewat kaca , ia ragu untuk mempertanyakan keadaannya. Aslan sadar ia hanya seorang bawahan, tak pantas jika ia bersikap lancang seperti itu.

Namun ia juga bingung harus berjalan kearah mana membawa dirinya yg terlihat sangat rapuh itu.

"Kita mau kemana nona"? Tanya Aslan dengan hati hati

"Terserah kamu mau membawa saya kemana, saya sudah tidak memiliki tujuan sekarang " Seru Raiya datar dengan tatapan kosong keluar jendela.

Semua ucapan Raiya adalah perintah untuk Aslan.

Ia mengemudikan mobil itu jauh dari perkotaan, Aslan membawa Raiya kesuatu pantai yg ada di pedalaman.

Pantai itu adalah tempat dimana Aslan selalu menemui ketenangan , ia berharap Raiya juga akan mendapatkan ketenangan ditempat itu.

Tak jauh dari pantai itu terdapat sebuah villa keluarga yg selalu disinggahi Aslan jika ia berkunjung kepantai itu.

"Kita sudah sampai nona" seru Aslan sembari membukakan pintu mobil.

Raiya turun dari mobil itu dan memandangi area sekitar, hembusan angin pantai seolah menyambut kehadiran nya.

"Pan-tai?" Seru Raiya menatap ke Aslan.

"Saya harap tempat ini cocok buat nona" sela Aslan penuh ragu, ia takut Raiya tidak menyukai keputusan nya membawanya ke tempat ini.

"Terimakasih .."

Raiya terlihat menikmati tempat itu.

Deruan air ombak terdengar sangat begitu tenang ditelinga Raiya, ditambah angin sepoi-sepoi yg terhempas diwajahnya. Seolah angin menerbangkan bulir airmata yg terjatuh dipipi.

"Aslan..apa kamu pernah di khianati orang terdekat mu?Bagaimana rasanya? Apa memang sesakit ini.."

Ungkap Raiya dengan menatap kearah pantai.

Aslan menoleh kearahnya dengan tatapan lirih, ia tak pernah melihat Raiya sehancur ini. Apa yg harus dilakukan orang bawahan seperti dirinya .

"Maaf nona.."

"Kita sedang tidak di kantor, kau tak perlu memanggilku dengan sebutan itu.. panggil saja Raiya" sela Raiya

"I-iya Raiya " situasinya semakin terasa canggung untuk Aslan .

"...Saya pernah ditinggal ibu saya saat usia saya masih 10 tahun, waktu itu ayah saya bilang ibu telah mengkhianati kami dan pergi bersama pria lain. Sebulan dari kepergian ibu, ayah pun mulai tergila-gila dengan wanita lain dan sudah jarang pulang. Saat itu saya merasa sangat marah kepada ibu kenapa ia tidak membawaku bersamanya..rasa kesepian, kecewa sedih dan putus asa selalu menyertai hari hari saya, ibu yg selalu menjadi tempat untuk berbagi kini sudah menjauh dan tak pernah lagi kembali..seburuk itukah aku sebagai anak dimatanya? Entah apa kesalahan yg telah aku perbuat sehingga mereka sanggup mengabaikan aku..." Raiya menatap kearah Aslan dengan tatapan sendu setengah takjub.

Raiya tak pernah menyangka Aslan memiliki kisah hidup yg kelam, tapi ia masih sanggup hidup selayaknya orang biasa.

Selama ini Aslan berada diatas naungan pamannya Robert yg tak lain adalah orang kepercayaan ayahnya juga.

Loyalitas dari paman Robert memang tidak diragukan lagi, oleh sebab itu Abarra menyarankan Aslan menjadi tangan kanan Raiya, karena Abarra percaya didikan Robert tidak akan mengecewakan nya. Dan benar saja, Aslan selalu menjadi orang andalan Raiya disetiap segala situasi.

"Tapi apakah aku harus mengakhiri hidup ku?..Raiya.. tidak semua orang menjadi musuh disaat hanya satu orang yg menyakiti kita.."

Aslan menoleh kearah Raiya yg sejak tadi menyimak ceritanya.

"Buktikan pada mereka bahwa segalanya tidak akan berhenti disana, buat mereka menyesal telah melakukan hal buruk itu. Teruslah tumbuh menjadi pucuk terbaru disetiap harinya, sampai mereka lelah memetik pucuk itu karena pucuk tersebut akan selalu dan terus tumbuh meski ia dipetik setiap hari .." Aslan tersenyum lirih kearah Raiya.

"Dengan cara itulah aku bisa berada disini sekarang, bersama anda..nona Raiya Abarra " tutur Aslan dengan rasa bangga.

Raiya mencermati dari setiap cerita Aslan , ia mengambil satu pelajaran dari kisah itu.

Bahwa disetiap perbuatan harus mendapatkan balasan.

Raiya kembali menikmati suasana dipantai itu, ia memejamkan matanya sembari menghirup udara segar yg berhembus.

"Hari sudah mulai gelap, udaranya juga sudah mulai dingin. Sebaiknya anda segera masuk ke villa..saya sudah menyiapkan kamar untuk anda."

Raiya menurut, ia beranjak dari duduknya.

"Terimakasih banyak untuk hari ini, pantai dan cerita mu sungguh membuat perasaan ku jauh lebih baik." Seru Raiya sembari berlalu masuk.


____________________


Ditempat lain, Zain mencari cari keberadaan Raiya. Berkali-kali ia menghubungi Raiya namun tak ada satupun yg terbalaskan .

Kekhawatiran itu memuncak saat ia diberitahu ART nya bahwa Raiya pergi setelah berbicara dengan seorang wanita bule. Zain jelas mengenali siapa wanita itu, apa yg sudah dilakukan Kimberly hingga Raiya mengabaikan teleponnya bahkan pergi menghilang seperti ini?

Zain pergi menemui Kimberly di apartemen nya namun ia tak menemukan nya disana, bahkan ia melihat semua barang barang Kim sudah tidak ada disana. Sudah dipastikan Kimberly memberitahu semuanya kepada Raiya, dan memutuskan untuk pergi setelah melakukan tindakan konyol itu.

Zain frustasi memikirkan semuanya, kejahatan yg ingin terus ia sembunyikan akhirnya kini Raiya mengetahui nya.

Sebelumnya ia berharap bisa menuntaskan semua rencana balas dendam nya itu tanpa harus menyakiti Raiya.

Zain sedang mengatur segalanya agar berjalan sesuai harapan nya, namun Kimberly menghancurkan semua nya.

Sekarang harus bagaimana, bila Zain berlutut meminta ampunan pun belum tentu ia akan mendapatkan nya.

Lihat selengkapnya