POV: MIRZAIN AWWARI
"Bagaimana perkembangannya?" Tanyaku dalam telepon.
"Saya sudah mengetahui dimana keberadaan Antonio Peres sekarang. Saya sedang mengikuti nya, akan saya kirim alamatnya ke anda tuan".
"Bagus! Awasi dia terus jangan sampai dia kabur sebelum saya sampai disana"
"Baik"
Dengan rasa menggebu aku melajukan mobil ku menuju alamat tersebut.
Akhirnya sedikit lagi aku akan sampai pada tujuanku, akan aku akhiri semuanya hari ini juga. Aku sudah muak dengan semua ini.
Tunggulah aku sebentar lagi Raiya..aku berjanji akan mengakhiri penderitaan ini, mari kita buka lembaran baru untuk kisah cinta kita sesuai impian kita..
Sabarlah aku mohon...
Setelah 30menit dengan kecepatan maksimal akhirnya ku sampai di tempat tujuan.
Tempat itu terlihat seperti sebuah gudang besar, situasinya yg sepi membuat aku takut..
Aku takut mengunjungi tempat yang salah. Tapi setelah aku pastikan lagi ternyata ini tempat yg benar seperti yg disampaikan oleh orang' suruhan ku tadi.
Dengan was was aku mendekati gudang itu, anehnya pintunya tidak terkunci.
Bagaimana bisa seorang buronan seperti Antonio bisa seceroboh ini, ini sungguh mencurigakan!
Kulangkah kan kaki memasuki tempat itu, ku edar kan pandanganku ke setiap sisi gudang.
Dan terlihat ada seseorang diujung tempat itu.
"Selamat datang tuan Zain herison"
Ku alihkan pandangan ku kearah suara.
Ternyata benar laki laki brengsek itu ada disana.
"Akhirnya kita bertemu juga Antonio Peres"
"Tentu..saya sengaja mengundang anda kemari"
Serunya dengan nada tengik.
Saat melihat seseorang yang ada bersamanya, aku sadar telah ditipu.
"Kurang ajar! Dasar penghianat!"
Seruku geram saat ku tahu orang suruhan ku berada didekatnya.
"Ckckck, bukankah anda juga seorang penghianat tuan Zain.."
Ia berjalan mendekatiku dengan wajah tengil nya.
"Sebagai sesama penghianat seharusnya kita saling bekerjasama..."
Aku tak bisa menahan lagi, kulayangkan tinjuanku kearahnya. Aku hajar dia dengan penuh rasa geram mendalam,
tapi entah datang darimana orang orang ini ,mereka menghentikan Bogeman ku yg kuberikan bertubi-tubi kearahnya, mereka mengekang kedua tanganku kebelakang.
"Brengsek! Lepasin! Akan kuhajar si keparat itu"