Tiga hari lalu, Aslan pergi ke MegaStar demi menyelidiki keganjalan yang ada di proyek tersebut..
"Ini salah satu warga yang dulunya menempati lahan ini, mas" tutur seorang pemuda kepada Aslan dengan membawa seorang lelaki tua.
"Terimakasih, kamu boleh pergi" seru Aslan pada pemuda itu, ia pun mengajak lelaki tua itu kesebuah tempat.
"Apa bapak penghuni asli lahan sini?" Tanya Aslan memulai interogasi nya. "Iya, makanya saya mohon nak, tolong kami. Kami sudah kehilangan segalanya, kami cuma mau hak kami kembali" tutur lelaki tua itu dengan ekspresi memohon.
"Bukannya pihak kami sudah memberikan sejumlah uang sebagai bentuk ganti rugi kepada semua warga disini?" Tegas Aslan.
"Uang itu cuma setengah dari perjanjian, kami meminta untuk disediakan hunian baru. Kami gak akan memberikan lahan yang sudah menjadi tempat tinggal sekaligus tempat mata pencaharian kami begitu saja, kami juga tidak bodoh nak. Tapi ternyata kami ditipu, sampai sekarang tidak ada gerakan dari pihak kalian untuk memberikan hunian baru untuk kami." Lelaki tua itu mulai terisak. "Tolong kami..kami yang naif ini memohon belas kasih kalian, anak anak kami terpaksa pergi keluar kota demi mencari pekerjaan yang layak, sedangkan kami yang tua hanya bisa bertahan dengan hidup luntang Lantung seperti ini, tolonglah nakk, kami cuma mau hak kami.." seru lelaki itu dengan nada lirih, membuat Aslan Merasa ibah.
"Kenapa kalian tidak mencoba melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian? " "10 tahun lalu ada seorang petugas polisi menemui kami, ia berjanji akan membantu kami dalam memperjuangkan hak kami, tapi sampai saat ini orang itu tak kunjung datang dan menepati janjinya. Bahkan setelah nya kami mencoba melapor kembali namun laporan kami ditolak, mereka bilang kami sudah tidak berhak lagi menuntut apapun karena kami sudah menerima sejumlah uang sebagai ganti ruginya, semenjak itu kami tak percaya lagi pada pihak kepolisian, mereka sama saja! Sama-sama tidak pernah memandang rakyat kecil seperti kami." Seru lelaki tua itu dengan raut muram.
Setelah mengetahui kebenaran ini, Aslan sungguh tidak pernah menyangka perusahaan besar seperti Retro Group mampu memanipulasi rakyat kecil demi melancarkan urusannya. Percakapannya dengan lelaki tadi benar-benar membuat Aslan tak habis pikir, bagaimana pandangan Raiya jika ia tahu proyek andalannya merupakan hasil dari jerih payah menipu orang banyak. Disela kegundahan nya tiba-tiba Robert datang.
"Sekarang kau sudah tau bagaimana Tuan kita bekerja, kan?" Seru Robert sembari duduk disamping Aslan. "Kenapa paman tidak pernah menceritakan soal ini"