Hembusan angin pantai turut menerbangkan buliran airmata.
Raiya menatap punggung Zain yg sedang berdiri ditepi pantai itu, ia ragu untuk menghampiri Zain. Langkahnya terhenti, sesaat ia bimbang dengan keputusannya untuk menemui Zain.
Seperti kode dari alam, Zain menoleh kebelakang seolah merasakan kehadiran Raiya.
Ia melengkungkan senyuman manis dan berjalan menghampiri Raiya yg terpaku ditempatnya.
Zain meraih tubuh Raiya dan memeluknya, seolah ingin melepaskan rasa rindu yg teramat dalam. Sampai saat ini Zain masih tak menyangka momen ini akan terjadi kembali, dimana ia masih bisa memeluk Raiya dengan hikmat.
"Aku tahu kamu pasti datang..aku sangat merindukanmu Raiya.." seru Zain penuh cinta, ia sungguh sangat bahagia Raiya masih mau menemuinya setelah semua yg telah terjadi.
"Bersabarlah aku akan membereskan semuanya, setelah semuanya selesai aku janji akan membahagiakan mu dan anak kita..aku mohon.." Zain berharap Raiya memberikan kesempatan terakhir padanya.
Namun tidak, Raiya mendorong Zain dari dekapannya, ia seolah tak ingin memberikan kesempatan itu lagi padanya.
"Kita sudah berakhir, Zain.." ucapnya dengan nada lirih.
"Nggak Raiya! aku tidak akan melepaskan mu. Percayalah padaku sekali ini saja" Zain memohon dengan tatapan terluka.
"Hentikan omong kosong mu Zain, HENTIKAN! CUKUP!" Moodnya tiba-tiba berubah, yang awalnya ia ingin berbicara baik-baik tapi setelah melihat Zain seolah perasaan itu berontak ingin memecahkan emosi.
"Jangan bersikap seolah kau peduli dengan hubungan kita, apa hak mu bicara seperti itu? Setelah apa yg sudah kau lakukan padaku dengan entengnya kau berkata sedemikian " cercanya, masih kecewa karena ketidakhadiran Zain di persidangan.
"Aku tau dosa yg telah aku beri sangat menyakiti dirimu, tapi yg harus kau tau Raiya, sebelum mulutku ini mengatakan hal itu aku sudah mengutuk diriku sendiri, setiap detik dari napas ini aku selalu mencaci maki diri ini atas apa yg telah aku lakukan terhadapmu, tolong..mengertilah aku juga tersiksa oleh takdir menyebalkan ini!"
Tutur Zain penuh luka, ia ingin Raiya memahami dari sudut pandangnya.
"Takdir?? .." Raiya memicingkan bibirnya menganggap itu lelucon. "..Takdir tidak mengizinkan kita untuk bersama! jadi berhentilah bersandiwara dan pergi dari kehidupanku untuk selamanya" ucapnya dengan wajah tegar yang dipaksakan.
"Raiya? Jangan seperti ini..aku datang untuk memperbaiki semuanya, aku..aku tau ini gak mudah, tapi bisakah kau tidak mengatakan hal itu? Jangan.." Zain mulai merasa pesimis, dia pikir proses ini akan mudah. Setelah berhasil bangkit dari kematian, ia pikir menemui Raiya adalah pilihan yang tepat. Ia sedikit merasa kecewa melihat respon Raiya yang masih saja terus menyudutkan nya.
"Kau berbicara seolah yg kau lakukan itu hanyalah kesalahan kecil, yg dengan meminta maaf semuanya akan kembali seperti semula, kau tidak mengerti apa yg aku rasakan! Bagaimana rasanya dihukum dengan kejahatan yg tak pernah aku lakuin!!.." gejolak di dadanya terus memuncak keluar, entah karena efek kehamilan nya yang membuatnya mudah sensitif, Raiya merasa mulutnya terus saja nyerocos diluar kendali logikanya.
Air matanya pun tak dapat dibendung lagi. Ia merasa sangat tersakiti oleh keadaan ini.
"Aku dihukum sebagai teman, sebagai istri..dan bahkan sebagai seorang anak. Dimana keadilan yg harus aku percaya? Untuk melangkah saja rasanya aku sudah tak mampu.." ucapnya bersama airmata yang terus saja mengalir diluar kendalinya.
"KENAPA KALIAN TIDAK MEMBUNUHKU SAJA!! KENAPAAA??.." teriaknya, melepas semua kepenatan yang menyesakkan dadanya sejak tadi.
"Raiya..." Zain terenyuh dan melangkah mendekat. Lagi lagi ia melihat sosok Raiya yang terlihat hancur. Ingin rasanya ia memeluk wanitanya itu.
Namun Raiya menghentikan langkahnya dengan menjulurkan tangannya kedepan.
"Jangan mendekat.." ucapnya dengan raut wajah yang penuh keputus asaan.