Love You Most

FA NELA
Chapter #7

Gara-Gara Dea

“Raf, lo lihat Dea nggak?” tanyaku pada Rafa yang sedang memainkan game online di komputer kelas. Ia menggeleng-gelengkan kepala tanpa menoleh. Kelasku masih ramai walaupun jam pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.

“Tadi sudah pulang.” Rafa masih sibuk memainkan game-nya. Ia terus memencet tombol-tombol yang ada di keyboard komputer, sesekali menggunakan mouse dengan serius.

“Ah, serius lo?” tanyaku nggak percaya. Jawaban Rafa benar-benar di luar dugaan, karena kupikir Rafa akan bilang ‘Dea ke kantin duluan’ atau kemana-lah yang penting masih di sekolah.

Kali ini dia menoleh, “Serius Wedha, Sayang,” jawabnya menggodaku.

“Apaan sih lo, Raf. Mulai deh.”

Rafa hanya tertawa saja, lalu saat aku meninggalkannya, ia terlihat fokus kembali pada game-nya. Sebenarnya sekolah sudah melarang para murid menggunakan komputer untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan kebutuhan belajar mengajar, termasuk bermain game, baik online ataupun tidak. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga anak SMA, semakin dilarang semakin bandel, termasuk aku, hehehe.

“Dea parah. Gue tinggal sebentar langsung ngilang,” kesalku sembari bergegas mengambil tas di atas meja, lalu pergi meninggalkan kelas yang masih berisik.

Gue bingung sama Dea. Padahal hanya pergi ke toilet sebentar, tas gue juga masih di atas meja. Tanpa pesan, tanpa pamit, ngilang begitu saja. Mana kata Rafa, Dea pulang duluan. Nggak mungkin kan Dea kayak begitu?. Di sepanjang koridor sekolah, aku ngedumel sendiri. Aku mencoba mencari Dea di kantin, tapi tidak ada. Di UKS—mungkin Dea ada rapat eskul mendadak, tapi juga tidak ada. Nanya sana-sini, teman-temanku tidak ada yang melihat.

Apa jangan-jangan Dea memang sudah pulang? Segera saja kukirim whatsapp kepada Dea,

<From: Me>

Dea, lo dmn? Udah pulang?

Akhirnya aku balik lagi ke kantin sambil menunggu balasan dari Dea. Tapi nasib berkata lain, sampai setengah jam berlalu, layar ponselku tidak kunjung menyala. Dea benar-benar tidak membalas pesanku. Tapi tunggu … Aku baru ingat sesuatu. Tadi kan dia bilang hapenya di-silent, pantas saja nggak balas sms gue, aku mencoba menenangkan diri. Kemudian kucari nomor Dea di kontak telepon.

Aku meneleponnya dengan harapan, hape Dea menggunakan mode getar.

Tut … Tut … Tut …

Kucoba lagi.

Maaf nomor telepon yang Anda tuju sedang sibuk …” Kumatikan segera panggilan itu. Akhirnya kuputuskan untuk pulang!

***

“Nyebelin banget!!” teriakku jengkel. Aku badmood sekarang. Hari ini Dea ngeselin. Ngebiarinin gue pulang sendirian,padahalkan Dea tahu kalau gue paling nggak bisa nyeberang, aku masih bersungut, untung tadi ada teman yang pulangnya searah sama gue. Kalau nggak, bisa-bisa gue nggak pulang cuma gara-gara nggak nyeberangin jalan raya.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur berselimut hijau lumut. Kulihat kamarku yang bernuansa alam itu, dinding kamar yang juga berwarna hijau dengan langit-langit kamar berwarna putih bersih membuat diriku sedikit tenang. Merasa seperti berada di dalam hutan yang sepi dan penuh ketenangan.

Tiba-tiba Suli datang dan berdiri di depan pintu kamar sambil cekikikan. Ia membayangkan kekonyolan yang akan terjadi seandainya aku benar-benar tidak bertemu dengan teman yang pulangnya searah denganku.

“Ditemukan gadis berusia 17 tahun, memakai seragam sekolah, meski hari sudah malam ia masih berkeliaran di sekitar SMA Langit Biru karena tidak bisa menyeberangi jalan. Diharapkan orang tua yang merasa kehilangan anaknya segera melapor!” ucapnya menirukan cara bicara reporter-reporter di televisi.

“Nggak lucu!!” kataku sambil melempar bantal ke arahnya. Suli langsung lari meninggalkanku sendirian.

“Bocah! Ngakak gue juga kalau sampai masuk TV gara-gara nggak bisa nyeberang.” Aku tertawa memikirkannya, walaupun agak menyesal menceritakan kejadian di sekolah tadikepada adikku, tapi niat bercandanya justru mengubah suasana hatiku. “Adik edan!” selorohku sambil tertawa.

Iseng-iseng aku ingin meng-update story di Instagram. Mulai dari kekesalanku kepada Dea sampai kekonyolan Suli. Mungkin saja nanti ada yang berkomentar. Segera aku login.

Ada tiga permintaan pertemanan dan 22 pemberitahuan. Kubuka pemberitahuan dulu, isinya tidak banyak yang penting, hanya seputar aktivitas membalas komen dari postingan astronomi. Lalu, kualihkan ke permintaan pertemanan, dua orang teman sekolahku, segera kukonfirmasi, dan yang terakhir bernama MR. Al-Mubarrak.

Lihat selengkapnya