Love You Most

FA NELA
Chapter #8

Cinta Dua Sahabat

Radit masih menengadahkan wajahnya ke arah langit malam yang begitu biru, saking birunya orang lebih suka menganggapnya hitam, gelap, dan pekat. Ia mendenguskan napas, terdengar kecewa. Mungkin Radit menginginkan sesuatu terjadi di sini atau dia mengharapkan bintang turut hadir menemani kami berdua? Radit menoleh ke arahku tepat saat aku sedang memandangi wajahnya. Mendadak aku salah tingkah.

“Lo kenapa?” tanyanya mengubah posisi duduk, sekarang ia benar-benar menghadap ke arahku, membuatku semakin gugup.

“Nggak kenapa-kenapa,” gelengku cepat.

“Sayang ya hari ini agak mendung jadi bintangnya nggak ada, padahal katanya tempat ini bagus banget buat lihat bintang soalnya nggak banyak cahaya lampu,” ucapnya sambil mendongak ke atas lagi, ia masih saja mencari bintang. Aku menyetujui pendapatnya bahwa tempat ini bagus untuk melihat bintang karena dari sini hanya terlihat hamparan air laut dipadu dengan kelamnya langit malam. Juga tak banyak cahaya lampu sehingga dari kejauhan antara laut dan langit seperti tidak ada pembatasnya.

Radit bersandar pada kayu yang memagari jembatan panjang yang berada di pinggir pantai. Jembatan yang biasanya menjadi tempat para pemuda-pemudi untuk mengisi malam minggu mereka, dan sekarang jembatan ini menjadi tempat pertama untukku berduaan dengan Radit, walaupun aku sendiri masih belum tahu tentang niat Radit membawaku ke tempat ini.

Aku juga bersandar di pagar kayu di sebelah Radit. Kulihat ia seperti orang linglung saat ia mengetuk-ngetuk kayu itu pelan sambil memainkan mimik mukanya.

“Kak, sebenarnya mau ngapain sih ngajak ke sini malam-malam?” tanyaku mulai penasaran.

Aku merapatkan jaket yang sedari tadi tertiup oleh embusan angin laut yang berasal dari darat. Udaranya yang agak lembab membuatku sedikit kedinginan.

“Lihat bintang,” jawabnya singkat.

Itu saja?, tanyaku dalam hati, aku menatapnya dengan rasa tak percaya.

“Sebenarnya nggak itu saja sih, ada alasan lain,” ucap Radit lagi seolah ia bisa mengerti apa yang ada di dalam pikiranku.

Aku bernapas lega, semoga alasan keduanya lebih baik daripada alasan pertama.

“Tapi gue bingung gimana ngomongnya, soalnya nggak ada bintang sekarang.”

“Maksudnya?” Aku justru kebingungan dengan jawabannya yang tidak jelas itu.

“Sebenarnya gue mau …” jawabnya memberi sedikit jeda, “nembak lo.”

Hening. Radit lagi-lagi berhasil membuatku hampir kena penyakit jantung gara-gara ucapannya yang mengejutkan.

“Tapi gue bingung gimana caranya, jujur gue belum pernah nembak cewek. Dan tadi siang Anwar sama Dea coba bantu gue, mereka suruh gue nembak lo di sini, ngobrolin soal bintang dan nyasar-nyasar ke soal cinta. Ujung-ujungnya baru deh gue nembak lo, tapi sekarang nggak ada bintang, dan gue jadi bingung sendiri.” Radit masih mengungkapkan panjang lebar.

Ya Tuhan jujur banget sih cowok ini, batinku ingin tertawa mendengar penjelasan darinya. Aku bersumpah, caranya dia menjelaskan itu seperti anak kecil, aku tertawa geli melihat ekspresi lucu di wajahnya.

“Jadi, berhubung lo sudah tahu semuanya, gue nggak perlu basa-basi lagi soal bintangkan?” tanyanya kepadaku.

Aku hanya mengangguk dan masih menertawakan.

“Berarti lo mau jadi cewek gue?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk lagi dan tidak berhenti sampai akhirnya tangan Radit mengeggam tangan kananku. Perlahan-lahan ditatapnya mataku lekat-lekat. Ia tersenyum dengan bahagianya dan mengucapkan terima kasih karena aku bersedia menjadi wanita pertama yang memberikan hati untuk dirinya.

Radit bilang, ia belum pernah merasakan ini sebelumnya. Bahkan awalnya ia ragu apakah ia benar-benar suka kepadaku atau tidak. Sampai ia merasa bahwa sikapku selama ini sedikit mencurigakan, mencuri pandang, dan tersenyum-senyum sendiri saat ia tidak tahu. Tapi sebenarnya Radit tahu, hanya saja dia pura-pura tidak tahu, itulah sebabnya ia hanya diam. Tapi dari sana, akhirnya Radit yakin bahwa aku menyukainya dan begitu pula sebaliknya.

Lihat selengkapnya