“Nanti temenin gue ke toko buku yuk,” ajakku pada Dea yang sedang menulis-nulis sesuatu di bindernya.
Sekarang mata pelajaran bahasa Inggris tapi gurunya sedang ada keperluan sehingga pelajaran kosong. Memang, tadi kelasku sempat diberi tugas oleh guru lain tapi ketua kelas bilang tugasnya nggak dikumpul jadi keadaan di kelas semakin berisik.
“Males ah. Capek. Nanti gue mau langsung pulang,” jawabnya tanpa semangat.
“Loh kenapa? Bukannya lo paling senang kalau gue ajak ke toko buku? Kemarin di gue lihat ada cuci gudang, siapa tahu buku yang diobral bagus-bagus,” ajakku lagi sambil mengiming-imingkan harga buku yang murah-murah tapi kualitas yang masih bagus seperti salah satu buku psikologi remaja yang harga aslinya Rp. 60.000,- tapi karena diskon menjadi Rp. 20.000,- Lumayan untuk tambahan koleksi.
“Ya sudah, lihat nanti deh,” jawabnya masih dengan intonasi yang datar.
Dea kenapa ya?, tanyaku dalam hati. Lalu,kuputuskan untuk mengobrol dengan teman yang lain, yang tempat duduknya berada di tiga baris dari tempat dudukku. Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar. Ada sebuah pesan singkat dari kelas di lantai atas.
<From: My Radit>
Eh, si Anwar brantem ya ama Dea? Dia aneh tuh.
Aku berpikir sejenak, melihat ke arah Dea yang masih sendirian di kursinya. Lalu, kuceritakan kepada Radit bahwa tingkah Dea juga sedikit aneh. Mulai dari suasana hatinya yang terlihat buruk sampai penolakannya ke toko buku. Kutunggu respon Radit selanjutnya, sepertinya dia penasaran dengan keanehan dua sejoli itu. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah rencana sederhana yaitu mengajak mereka pergi ke taman.
“Sip,” ucapku sambil mengetik kata yang sama dengan yang kuucapkan barusan. Aku tersenyum, dan berdoa semoga ideku berjalan dengan baik. Aku tak tahu apa yang terjadi antara Anwar dan Dea apalagi ini adalah hari pertama mereka jadian, sepertinya ada yang aneh, mungkin ada salah paham. Sebagai tanda terima kasihku padanya karena telah menyatukan aku dan Radit, aku harus membuat mereka akur lagi.
***
“Kita mau ngapain di parkiran? Lo kan nggak pernah bawa motor kalau ke sekolah,” Dea menatapku heran.
“Tunggu sebentar ya, Cantik. Kita lagi nunggu seseorang,” jawabku mencoba bercanda, “hm, sebenernya nggak seseorang juga, dua orang deh.”
“Jangan bilang …” Belum selesai Dea bicara, Radit sudah berada di hadapan kami bersama Anwar. Dea terlihat agak kesal tapi ditahan.
Kulihat Anwar menaiki motornya yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku segera mendekatinya, “Kak, gue sama lo ya.”
Anwar menatapku heran, “Radit?”
“Gue sama Dea,” jawab Radit spontan. Ia tersenyum penuh rahasia sambil mengedipkan mata kepadaku sebagai tanda mulainya rencana kami. Kemudian, ia menaiki motornya dan memakai helm.