Love You Most

FA NELA
Chapter #6

Mencintai Karena Tuhan

Dea membuka bekalnya. Hari ini kami janjian untuk tidak ke kantin alias membawa bekal dari rumah. Kulihat Dea hanya membawa iga bakar dan sayur brokoli tanpa nasi.

“Lo nggak bawa nasi, De?” tanyaku heran, “Nggak laper?”

“Kesiangan gue nasi belum matang. Untung masih ada iga sama sayur sisa semalem. Tinggal diangetin bentar,” jawab Dea menjelaskan.

“Kebetulan,” sahutku lagi, “lo tahu kebiasaan nyokap gue kan? Kalau masukin nasi ke tempat makan sudah kayak mau perjalanan jauh, banyak banget,” candaku sambil tertawa, “tadi gue juga buru-buru soalnya, jadi nyokap yang ngurusin bekal. Parah ya gue.”

“Manja.”

Dea langsung menyendokkan nasi dari tempat makanku ke tempat makannya. Kami sudah sering seperti ini, berbagi makanan bila salah satu di antara kami ada yang tidak membawa bekal. Jadi, tanpa harus izin, dia sudah paham.

“Ngomong-ngomong, tadi maaf ya pulsa gue habis,” katanya sambil melahap makanan dengan antusias.

Ah Dea, coba tadi lo baca novelnya dekat sama gue.” Aku kembali ceria, “Ada Kak Radit tahu.”

“Sorry, tadi hape gue silent, jadi nggak tahu kalau lo WA,” jelasnya lagi.

Tiba-tiba aku merasa kenyang, padahal baru beberapa sendok nasi yang kumakan. Jantung ini lagi-lagi berdetak kencang. Benar-benar aneh. Tanpa sebab apa pun, aku mendadak tidak berselera makan lagi. Dea heran melihatku yang tiba-tiba menutup tempat makan.

“Kok tiba-tiba gue nggak ingin makan ya?”

“Lah, lo kan baru beberapa suap? Masak sudah kenyang?”

Aku hanya menggeleng kepala. Aku juga bingung. Lalu, mataku menangkap sesosok laki-laki yang sedang berjalan di koridor sekolah menuju ke arah tangga di sebelah kelasku. Laki-laki itu berjalan bersama temannya. Kalau di film-film, adegan seperti ini biasanya slow motion, lalu bakal ada aura tersendiri yang bikin para penontonnya tak akan mengalihkan mata sedikitpun dari layar.

Lihat selengkapnya