"Namaku Keisha, aku berusia enam tahun. Aku tinggal bersama dengan ayah dan ibu serta kakak laki-lakiku yang pendiam. Kakakku bernama Adam, tapi aku tidak pernah berbicara dengannya sedikitpun karena ibu selalu melarangku untuk masuk ke kamar. Setiap hari aku selalu pergi ke sekolah seperti biasa dan bertemu dengan teman-teman baruku, tapi tidak seperti kakakku. Setiap aku ingin mengintip saja dari lubang pintu pasti ibu selalu memarahiku dan ayah selalu nasehatiku untuk tidak pernah melakukannya. Aneh banget sih..."
Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang hangat, menembus celah-celah gorden kamar yang berwarna merah muda. Keisha terbangun dari tidurnya bukan karena alarm, melainkan karena suara omelan ibu yang mulai melengking dari lantai bawah. Rupanya ibu sedang kesal karena ayah tidak membangunkannya tepat waktu, membuat suasana pagi di rumah itu sedikit tegang. Keluarga kecil itu segera bersiap-siap untuk melakukan aktivitas seperti biasa di Senin pagi yang sibuk. Sosok ibu dan ayah yang akan berangkat bekerja segera merapikan diri, sementara si kecil Keisha harus bersiap untuk pergi ke sekolah TK-nya.
Seperti biasa, Keisha segera mandi dan berpakaian dengan seragam kotak-kotaknya yang rapi. Namun, ketika dia melewati lorong panjang menuju kamar mandi, rasa penasaran yang selalu menghantuinya muncul kembali. Di ujung lorong itu ada sebuah pintu kayu jati yang selalu tertutup rapat, kamar Kak Adam. Keisha berhenti sejenak, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada yang melihat. Dia mencoba untuk mengintip kesekian kalinya melalui lubang pintu yang gelap itu. Dia hanya ingin tahu seperti apa rupa kakaknya, apakah kakaknya sedang bermain, atau mungkin sedang tidur? Namun, belum sempat matanya menempel pada lubang kunci, tiba-tiba terdengar suara deham berat dari arah belakang.
"Mandi atuh nang. Ayah bilang mandi, jangan intip ke sana. Ibu nanti marah sama kamu lagi, yuk mandi keburu terlambat nanti. Ayah juga mau ke bawah, mau periksa motor jadi tidak mogok kayak kemarin."
Ayah berdiri di sana dengan handuk tersampir di bahunya, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya. Ayah menunggu Keisha sampai benar-benar masuk ke dalam kamar mandi sebelum dia sendiri segera turun ke lantai satu dan pergi menuju halaman untuk memanaskan motor. Di dalam kamar mandi, Keisha hanya bisa menghentakkan kaki dengan kesal. Air yang dingin menyentuh kulitnya, tapi pikirannya tetap tertuju pada pintu di ujung lorong itu. Mengapa semua orang bersikap seolah-olah pintu itu adalah gerbang menuju dunia lain?
Setelah selesai bersiap dan memakai seragam TK yang lengkap dengan kaus kaki putihnya, Keisha segera turun ke dapur. Langkah kakinya yang kecil berbunyi teratur di anak tangga kayu. Di meja makan, sudah tersedia nasi dan juga lauk pauk untuk sarapan yang aromanya sangat menggoda. Ada telur dadar dengan campuran irisan bawang merah dan sosis, serta tempe bacem yang bumbunya meresap sampai ke dalam.
"Hari ini bekalnya apa ya Bu?" tanya gadis kecil itu sambil menarik kursi dan mulai menikmati sarapan paginya.