Sore itu udara yang sedari siang panas, berganti menjadi hangat. Langit yang terang benderang, menjadi kekuningan bahkan perlahan berubah menjadi warna jingga. Seolah menjadi sebuah kenikmatan bagi pekerja pabrik yang baru keluar karena sudah waktunya ganti sif.
Pabrik itu cukup besar dan terkenal. Menyerap hampir 1000 tenaga kerja. Setiap pergantian sif, sekitar 200 pekerja lebih keluar dan digantikan oleh pekerja lain yang sama jumlahnya. Mereka yang pulang, menikmati udara hangat dengan pemandangan lembayung senja. Seolah sedang melihat lukisan indah. Sambil menyeruput sedikit kopi hitam yang nikmat, mereka melepas penat setelah seharian melihat leburan besi panas yang meleleh. Berbondong-bondong dengan seragam abu-abu dan helm proyek.
Di depan pabrik yang merupakan jalan utama, berderet ruko yang kebanyakan menjual makanan minuman. Tapi tidak semuanya laku. Hanya ada beberapa. Termasuk warung makan yang terletak agak jauh dari pabrik. Setiap sore ketika para pekerja pabrik pulang, selalu ramai. Selain enak, harga makanan yang murah menjadi kombo yang mematikan.
Layaknya karyawan lain, sore ini seorang pemuda yang wajahnya tampak lelah, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan juga berjalan perlahan dan masuk ke warung makan itu. Beruntung ada deretan bangku panjang yang kosong. Dia langsung duduk dan memesan makanan dan minuman di tengah ramainya orang makan sambil mengobrol.
Pemuda itu tetap menikmati makanannya sambil mendengarkan seorang pria yang bercerita soal mimpinya semalam kepada dua temannya.
“Malam tadi, aku mimpi ketemu makhluk besar kayak serigala tapi bulunya lebat banget,” ujar seorang pria botak dengan tubuh agak gemuk.
“Bagaimana itu mimpinya?” tanya seorang pria yang badannya kurus.
“Begini, Dul,” pria botak itu melirik ke arah pria kurus lalu melanjutkan, “Tadi malam, aku pulang ke rumah.”
“Habis dari mana kamu?,” sela pria yang rambutnya agak panjang.
Pria botak itu melirik ke arah pria yang rambutnya agak panjang dengan raut wajah kesal.
“Diem dulu napa. Aku mau cerita ini, Sal,” pria botak itu menepuk kening pria yang rambutnya agak panjang.
“Iye iye, Raman,” balas Salman dengan nada meledek.
“Nah gitu dong. Itu si Dadul aja dengerin gak banyak pertanyaan.” Raman menunjuk ke arah pria yang badannya kurus.
“Ya sudah sok lanjut,” Salman mengangguk.
“Jadi,” Raman melanjutkan, “tadi malam setelah aku nongkrong di pemancingan, aku pulang langsung tidur. Nah kemudian aku mimpi aneh. Berjalan di hutan belantara yang gelap. Pohonnya gersang gak ada daunnya. Terus, aku ketemu makhluk yang tadi aku bilang. Kayak serigala besar banget tapi bulunya juga lebat banget. Kayak kapsul yang ada empat kakinya.”
Salman dan Dadul saling memandang dan mereka seketika tertawa.
“Itu mah Cuma kesemsem. Mungkin karena dulu kau pernah dikejar anjing yang segede serigala haha,” kata Salman tertawa keras.
“Itu cuma mimpi, Man. Nggak usah dipikirin. Anggap aja kembang tidur,” Dadul juga tertawa.
“Ehh, kalau itu alasannya, gak masuk akal. Kejadian aku dikejar anjing kan minggu lalu,” sangkal Raman.
Tapi Dadul dan Salman tetap tertawa.
Berbeda dengan reaksi mereka berdua, pemuda tadi yang mendengarkan pembicaraan, malah berasa tergelitik telinganya. Alisnya menyatu karena keheranan. Bahkan matanya melirik-lirik dan wajahnya tertunduk sehingga rambutnya yang agak keriting menutupi matanya. Sampai seseorang datang dan menepuk pundaknya.
“Ka, woy, Naka!” sahut seseorang sambil terus menepuk pundaknya.