Lucif Eater

Hasan Danakum
Chapter #2

Peyusup

Malam itu kamar Naka sunyi. Napasnya berat dan teratur, tubuhnya tergeletak lelah setelah seharian bekerja. Namun dia juga gampang sekali terbangun ketika ada sesuatu yang mengganggu. Contohnya ketika ponselnya berbunyi. Naka perlahan membuka matanya lalu tangan kanannya meraih ponsel. Ketika melihat layar ponsel, matanya terbuka lebar dan langsung mengangkat telepon itu.

“Halo, Naka,” kata seseorang di dalam telepon.

“Halo, Bu. Ada apa malam-malam telepon?” tanya Naka sambil menguap dan matanya melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tiga pagi.

“Ibu cuma khawatir. Tadi ibu terbangun dan mikirin kamu. Biasanya kamu kan suka ketindihan jam segini dan minta tolong.”

“Sekarang mah aku tidur lelap, Bu. Kan udah lama nggak kayak gitu lagi.”

“Syukurlah. Tapi masih keinget aja.”

“Ibu di sana bagaimana? Sehat semua kan?” Naka bertanya balik.

“Kami semua sehat. Bapak baru aja mau mulai nanam padi di sawah lagi,” nada ibunya terdengar senang.

“Bilangin kalau gak sanggup, mending bayar orang aja buat ngurus sawah.”

“Ibu selalu bilang begitu sama bapak. Oh iya kapan kamu pulang?”

Naka terdiam sejenak lalu mulai menjawab, “Mudah-mudahan tahun ini pulang. Kondisi ekonomi kan lagi sulit. Apalagi di kota. Harga serba naik tapi gaji gak ikut naik.”

“Iya Ibu paham, kok. Ya udah kamu tidur lagi ya.”

“Baik, Bu.”

Setelah menutup telepon Naka tidak langsung tidur. Dia terlentang sebentar sambil melihat jam dinding yang suara detik jarumnya cukup mengganggu telinga. Tetapi lama kelamaan mata Naka tertutup dan dia kembali tertidur.

Semuanya terasa gelap. Sampai dia kembali membuka mata dan mendapati dirinya berada di hutan yang gelap dengan banyak pepohonan yang gersang. Naka celingukan dan mulai melangkahkan kaki.

“Sepertinya aku sedang bermimpi,” gumam Naka.

Perlahan dia berlari menyusuri hutan sampai akhirnya dia mendengar suara teriakan seorang laki-laki. Naka bergegas mendekati sumber suara. Sesampainya di sana, samar-samar dia melihat seorang pria botak dengan ekspresi wajah ketakutan. Kakinya gemetar lalu dia terduduk sambil tangan kanannya menunjuk ke arah depan. Tetapi Naka tidak langsung melihat ke arah tunjukkan pria botak itu. Dia terdiam dengan mata melotot. Sebab pria botak yang dia lihat adalah pria botak yang ada di warung makan kemarin sore.

“Raman,” lirih Naka yang kemudian dia melirik ke arah tunjukkan tangan kanan Raman.

Kali ini mata Naka terbelalak. Di gelapnya hutan yang hanya diterangi sinar bulan yang remang-remang, terlihat makhluk yang menyerupai serigala tetapi bulunya sangat lebat. Geramannya sangat menakutkan. Matanya yang merah menyala menambah ketakutan siapa pun yang melihatnya.

Karena Naka tahu ini adalah mimpi, dia berpose layaknya seorang yang bersiap untuk melawan. Namun tiba-tiba seorang pria tinggi berpakaian jubah hitam, topi bundar hitam dan sarung tangan hitam berjalan mendekat. Dia berdiri di depan serigala itu sambil mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka ke arah serigala itu. Seolah berkata kepada agar segera berhenti kepada serigala itu.

Namun makhluk itu tidak peduli. Dengan lolongan yang memekakkan telinga, serigala itu melompat ke arah pria itu. Mulutnya terbuka. Tapi bukan mulut biasa. Sebab terbuka hampir setengah badan. Seperti ujung timun yang terbelah menjadi dua. Giginya yang runcing, tajam dan hampir memenuhi semua mulutnya, menambah kengerian makhluk itu.

Tapi pria itu tetap bergeming. Dia entakkan tangan kanannya dan serigala itu terpental jauh ke belakang. Naka dan Raman yang melihat kejadian itu terdiam sambil menelan ludah. Sementara makhluk itu pergi menjauh.

“Harus aku kejar,” kata pria dengan jubah hitam itu.

Lihat selengkapnya