Malam itu, mataku terbelalak hebat ketika melihat wanita kesayanganku tergeletak begitu saja di lantai yang penuh dengan pecahan piring dan nasi yang berhamburan.
Seluruh tubuhnya pucat seperti mayat, bibirnya membiru. Seketika itu, aku berteriak hingga napas hampir putus.
“Mama, cepat sini!”
“Ada apa sih, Aluna? Malam-malam begini teriak-teriak. Bukannya tidur!” Suara Mama terdengar dari kejauhan, seakan malas menanggapi.
“Mama, Adik pingsan!”
“Apa?!” Langkah kaki Mama terdengar semakin kencang.
Mama mengguncang-guncang tubuh kecil itu, sembari memanggil namanya. Adik tidak merespon sama sekali. Aku hanya bisa menangis. Memangnya apa yang bisa dilakukan anak usia sebelas tahun ini ketika melihat adiknya tidak berdaya?
Suara mobil Papa terdengar. Ia baru saja pulang bekerja. Tanpa aba-aba, aku langsung berlari menghampiri, memberi tahu apa yang terjadi di dalam. Papa panik, berlari meninggalkan mobilnya.
Tubuh pucat itu ringan saja ditopang seorang pria kurus dengan tangan kasarnya. Secepat kilat, kami telah sampai di RSUD Harapan Sejahtera, tempat Adik biasa berobat.
Mobil berhenti di depan IGD, Mama turun berteriak meminta tolong kepada suster dan dokter di sana. Mereka berlarian ke sana ke mari, mengambil berbagai macam peralatan. Ada pula yang mendorong sebuah ranjang. Aku melihat mereka semua dari jendela mobil.
Tanganku gemetar hebat. Kenapa mereka semua panik? Apakah kondisi Adik sangat serius? Ranjang tadi sudah siap di depan pintu mobil. Aku disuruh turun oleh Papa. Para perawat yang mengurus Adik. Mereka langsung membawanya ke ruang IGD.
Anak kecil tidak boleh masuk IGD. Jadi, aku menunggu bermenit-menit di ruang tunggu, sendirian. Hingga ketika Mama keluar dan menemuiku.
“Aluna, kamu sekarang pulang, tidur di rumah saja, temani Kaysa. Besok, sebelum berangkat ke sekolah, mampir dulu ke sini, bawakan baju Raina, Mama, dan baju kerja Papa, ya!”
Perintah orang tua tidak boleh dilanggar. Meski masih khawatir dengan kondisi Raina, aku tetap harus pulang seperti apa kata Mama.