LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #3

Janji Mama

Tahun 2011, saat itu usiaku delapan tahun. Kami menghadiri pesta sweet seventeen Bang Beni. Dulu, Papa bekerja menjadi sopir pribadi ayahnya. Sekarang sudah tidak lagi. Pekerjaan Papa sekarang adalah sopir mobil travel.

Aku masih ingat betul suasana malam itu. Pertama kalinya aku melihat rumah yang begitu terang dipenuhi ratusan lampu berwarna-warni. Berkelap-kelip, seperti bintang langit yang digantung di setiap sudut ruangan. Aku hampir tenggelam oleh banyaknya manusia di sana.

Dress Mama kupegang dengan erat. Takut. Tidak ada seorang pun yang aku kenal di sana, kecuali Mama, Papa, Kakak, dan Adik. Bahkan Bang Beni sekeluarga, aku baru melihat mereka pertama kalinya.

Aku melihat sebuah bolu bertingkat dari sela-sela kumpulan punggung orang dewasa. Wah, cantik sekali. Warna biru, dipenuhi toping seperti permen. Kelihatannya sangat enak. Lilin berbentuk angka 17 berdiri gagah di atasnya.

Bang Beni duduk di sebuah sofa, bersama dengan seorang wanita. Kata Mama, dia pacarnya. Saat itu aku belum mengerti apa itu pacar. Tapi, apa pentingnya memikirkan itu?

Semua orang mengucapkan selamat dan mendoakan Bang Beni. Kurasa, mereka semua menyayangi Bang Beni. Bagaimana, ya, rasanya disayangi semua orang? Apakah ketika aku merayakan sweet seventeen nanti, semua orang akan menyayangiku? Aku juga mau.

"Mama, nanti kalau sudah besar, aku mau mengadakan pesta sweet seventeen seperti ini, ya? Boleh, kan?"

Mama yang sedang sibuk mengelap makanan yang berserakan di stroller Kakak, mengangguk. Aku senang sekali. Kucatat janji Mama malam itu di dalam hati.

Aku senang sekali pada saat itu karena sebelum-sebelumnya belum pernah sekalipun ulang tahunku dirayakan. Kata Mama, daripada merayakan ulang tahunku, lebih baik uangnya dipakai untuk terapi Kakak.

"Kakakmu sakit, jadi dia lebih butuh. Kamu harus mengalah."

Seperti itu alasannya setiap tahun.

***

Aku berpikir, mungkin ada saatnya nanti ulang tahunku dirayakan. Yaitu ketika usiaku 17 tahun. Mama sudah berjanji. Maka, selama dua belas tahun aku hidup di dunia yang tidak pernah kusukai ini, aku selalu menunggu-nunggu momen itu.

Seragam Papa sudah diantar, kini saatnya berangkat ke sekolah. Sudah sangat terlambat, memang. Namun, aku tidak mau bolos sekolah barang sehari pun. Pelajaran-pelajaran di sekolah membuat semua pikiran dalam benakku menguap sempurna, memberikan ruang yang luas untuk kumpulan rumus-rumus Matematika berenang-renang.

Lihat selengkapnya