LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #4

Ruang Rahasia Sekolah

Aluna, 2010.

Mataku sibuk berputar-putar melihat sekeliling. Kumpulan orang asing memenuhi tempat yang juga asing. Banyak sekali anak yang bergandengan tangan dengan orang dewasa. Sepertinya itu ayah dan ibunya.

Semua rambut anak perempuan dipenuhi dengan kunciran warna-warni. Juga tas yang bergambar warna-warni. Pakaian mereka berwarna putih bersih dan rapi. Sedangkan anak lelaki serentak mengenakan topi merah putih dan tas bergambar karakter superhero kesukaan mereka masing-masing.

Hanya aku yang rambutnya tergerai tak karuan. Hanya aku yang tasnya tak bergambar, warna merah kusam, ukurannya lebih besar dari tubuh mungilku. Hanya aku yang pakaiannya lusuh berwarna kekuningan. Kata Mama, aku tidak perlu membeli seragam baru. Tinggal minta saja seragam anak tetangga yang sudah tidak terpakai.

Juga hanya aku yang berjalan sendirian tanpa gandengan orang tua. Sepanjang jalan menuju kelas, aku tertunduk. Tidak berani menatap apa pun. Semua tampak menakutkan. Sedang pakaianku sungguh memalukan.

“Hai! Namamu siapa?”

Ada seorang anak menghampiri, tersenyum padaku, dan mengulurkan tangannya. Perlahan wajah yang tadinya menunduk ini, kunaikkan sedikit. Penampilannya sama saja dengan anak perempuan lain yang tadi kuceritakan. Karena aku tidak mengenali anak itu, dan juga karena aku tiba-tiba merasa gugup di hadapannya, suaraku tidak keluar sama sekali. Hanya pikiranku yang sangat berisik.

Aku takut. Aku malu. Aku tidak kenal dia. Apakah dia baik? Siapa dia? Bagaimana kalau dia mengejek? Bagaimana kalau dia jahat? Bagaimana caraku menjawab sapaannya?

Semua pikiran itu bergantian memenuh kepalaku, menghalangi. Aku tertunduk lagi, mengabaikannya. Terlalu lelah karena bertengkar dengan pikiran sendiri.

“Namaku Irma. Boleh aku duduk di sampingmu?”

Aku mengangguk. Dan tidak berbicara apa pun, dengan siapa pun, sampai lima hari ke depan. Selama lima hari itu, Irma tetap duduk di sampingku, mengajak bermain, dan membagi bekalnya denganku pada waktu istirahat. Suaraku benar-benar tidak keluar sama sekali.

Setiap hari Irma membawa bekal, sementara aku tidak. Aku juga terlalu takut untuk pergi ke kantin. Jangan khawatir, dia membawa bekal lebih dari jatah makannya. Sengaja dilebihkan, katanya.

Irma juga suka bercerita. Ia menceritakan segala hal kepadaku meski hanya ditanggapi dengan senyum, anggukan, dan gelengan. Aku pun heran, kenapa dia masih mau berteman denganku?

***

“Aluna, nilai Matematikamu tadi bagus sekali. Ajari aku, dong!”

Aku terkejut mendengar kalimat Irma. Nilai matematikaku tidak seratus, kenapa dia bilang bagus? Memintaku untuk mengajari? Memangnya aku pintar?

“Nilaiku cuma empat puluh. Ajari aku, ya? Pliiss…,” lanjutnya.

“Iya!” Tak terasa, suaraku akhirnya bisa keluar setelah lima hari tidak keluar sama sekali.

Entah mengapa ketika kalimat pertama keluar dari mulut Irma, aku senang bukan main. Meskipun ada rasa bingung. Apalagi ketika ia minta diajari. Rasanya, muncul api unggun dalam hatiku. Sangat bersemangat. Aku tidak tahu bagaimana perasaan itu bisa muncul secara tiba-tiba.

Nampak raut wajah Irma begitu bergembira. Dia juga senang. Aku tidak terlalu pasti apa penyebabnya.

“Kalau begitu, nanti kita cari ruang rahasia sekolah untuk tempat kita belajar,” kata Irma.

“Apa?”

“Ruang rahasia sekolah. Kita cari ruangan kosong di sekolah ini yang tidak diketahui siapa pun.”

Lihat selengkapnya