LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #5

Thalassemia

Hari ini ada ulangan harian Matematika. Aku dan Irma tidak takut karena merasa sudah mahir menghitung. Kami yakin akan mendapat nilai seratus.

Soal ulangan mulai dibagikan. Jari jemari bergerak-gerak lincah, pemanasan agar lancar untuk digunakan menghitung.

Satu persatu soal telah terisi berkat lihainya jemari menari-nari. Hanya satu soal lagi. Soal nomor sepuluh.

9 + 5 = …

Lihatlah! Bagaimana menghitungnya ini? Jariku kan hanya sepuluh?

“Waktu tinggal lima menit lagi.” Bu Guru mengingatkan.

Bagaimana ini? Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Tidak bisa menemukan cara penyelesaiannya.

Irma bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Bu Guru, lalu menyerahkan kertas ulangan. Dia sudah selesai!

Aku pusing sekali. Keringat membasahi telapak tangan.

“Waktu habis. Kumpulkan kertas ulangannya!”

Ah, aku masih belum selesai juga. Asal saja kutulis angka dua puluh di nomor terakhir. Kupikir, tidak mengapa jika salah satu nomor. Kalau sembilan nomor lain betul semua, nilai akan tetap besar. Apa masalahnya?

Kata Bu Guru, hasilnya akan dibagikan besok. Sungguh membuatku penasaran dan bertanya-tanya sendiri setiap detik. Berapa nilaiku? Semoga nilainya besar. Tidak sabar menunggu besok.

Esok telah berubah menjadi hari ini. Ulangan sudah dibagikan. Penasaran nilaiku berapa? Sembilan puluh lima. Benar dugaanku. salah satu nomor. Aku cukup senang karena nilainya besar. Akan kutunjukkan pada Mama. Semoga saja Mama juga senang.

Penasaran nilai Irma berapa? Delapan puluh. Aku berhasil menebak, dia tidak teliti. Tidak menghitung dengan benar. Lupakan soal nomor sepuluh. Sembilan nomor lain pun masih ada yang salah. Ah, dasar Irma!

Sampai rumah, aku bersemangat menunjukkan nilai sembilan puluh limaku kepada Mama. Ini jawabannya.

“Lalu? Apa pentingnya? Sudah, sana cuci piring!”

Ah, runtuh hatiku. Kertas ulangan itu kutempel di dinding saja. Nilai sembilan lima ini tidak berarti apa-apa bagi Mama.

Soal nomor sepuluh tadi, bagaimana caranya, ya? Aku ingin bertanya kepada Bu Guru, tapi malu. Biar kupikirkan besok saja. Sekarang aku lapar sekali.

Tudung saji kubuka, ternyata tidak ada apa pun. Tidak ada lauk, bahkan nasi.

“Tadi kakakmu makan lahap sekali. Nasi dan lauknya habis. Kalau kamu mau makan, beli sendiri di warung nasi. Uangnya ambil saja di tas Mama.”

Ya sudahlah. tidak apa-apa. Aku bisa menahan lapar.

***

Aroma roti panggang dan selai kacang memenuhi dapur. Kakak, Adik, dan Papa sudah duduk rapi menunggu piringnya diisi. Mama memanggang roti dengan pan, dan aku mengoleskan selai kacang.

“Aluna, suapi kakakmu dulu, ya! Kasihan dia sudah lapar.”

“Iya, Ma.”

Lihat selengkapnya