"Selamat ulang tahun ... kami ucapkan ...."
Meriahnya lagu selamat ulang tahun meski hanya dinyanyikan oleh Ayah dan Bunda. Sepulang sekolah tadi, kami dikejutkan oleh mereka dengan nyanyian.
Kuperhatikan, raut wajah Irma ceria sekali. Ia bertepuk tangan, melompat-lompat. Ayah dan Bunda tertawa-tawa dengan tatapan berbinar. Bagaimana, ya, rasanya menjadi Irma? Aku belum pernah sama sekali melihat mata Mama dan Papa berbinar seperti itu.
Sebenarnya, aku tidak tahu apa itu ulang tahun. Dua kata yang asing. Mengapa ada kejutan, kue, dan lagu? Mengapa Irma dan orang tuanya berbahagia sekali?
Aku tidak mengerti. Tapi, entah mengapa aku ikut merasa senang melihat mereka. Apakah kebahagiaan adalah penyakit menular?
Ayah dan Bunda bernyanyi: "Potong kuenya ... sekarang juga ...."
Irma mengambil sebuah pisau dan mulai memotong kue di hadapannya. Setelah dipotong, potongannya ditaruh di piring, lalu disodorkan kepadaku. Ini untukku? Aku yang pertama mendapat potongan kue? Mengapa aku? Mengapa bukan Ayah atau Bunda?
Sejujurnya, hari ini dipenuhi dengan pertanyaan. Ah, biarlah. Nanti mungkin akan kutemukan jawabnya satu persatu.
"Kadonya, kita beli mainan di mall! Yuk, siap-siap sekarang!" Ayah berbicara dengan sorot mata yang masih berbinar.
"Yey! Aku bebas pilih mainan, kan?" Irma bersemangat sekali.
"Iya, dong. Kado ulang tahun spesial untuk anakku tersayang."
Bertambah lagi daftar kata asing di benakku. Kado? Dan ... boleh beli mainan? Bukankah Mama bilang beli mainan itu hanya menghabiskan uang saja?
"Aluna, Kaysa, kalian juga boleh beli mainan, ya! Pilih saja yang kalian suka." Bunda menunjukkan senyum manisnya.
Kak Kaysa kegirangan. Hanya aku yang menggaruk rambut yang sebenarnya tidak gatal. Memangnya boleh beli mainan? Selama ini aku tidak pernah beli mainan karena dilarang Mama. Kukira, membeli mainan adalah hal yang tidak boleh dilakukan anak kecil.
Irma menarik lenganku padahal aku belum sepenuhnya keluar dari mobil. Ia tertawa-tawa sampai semua giginya terlihat.
"Aluna, ayo cepat! Aku sudah tidak sabar!"
"Eh, sebentar, kakakku ..."
"Tidak apa-apa, Aluna. Biar Kaysa bersama Ayah. Kalian duluan saja.
Rak-rak dipenuhi berbagai jenis mainan. Aku tidak pernah menyangka bahwa mainan untuk anak-anak ada banyak sekali jenisnya. Ayah, Bunda, dan Kak Kaysa sudah menyusul di belakang. Irma entah sudah berapa kali memutari rak-rak ini.
“Aluna, kalau kamu mau, ambil saja, ya?”
“Eh, iya, Bun. Terima kasih.” Aku tersenyum tipis.
Aku sangat bingung ingin membeli mainan apa. Banyak sekali pilihan. Bagaimana caranya memilih? Aku berjalan pelan mengikuti Ayah dan Bunda. Namun, mataku tidak bisa terlepas dari rak-rak penuh mainan itu.
Irma datang, lagi-lagi menarik tanganku. “Aluna, kita beli boneka saja, yuk! Sini, ikut aku!”
Kali ini, memang khusus toko boneka. Semua jenis boneka dengan beragam ukuran memenuhi sekeliling. Banyak juga anak kecil digandeng ibunya di sini. Pikiranku meracau. Untuk apa, ya, anak kecil membeli boneka? Tanpa boneka pun mereka tetap bisa hidup, kan?
“Aluna, kita beli ini, yuk!” Irma menunjukkan sebuah boneka kucing berbulu tebal. Ukurannya tidak kecil juga tidak terlalu besar. Aku meraba-raba sebentar, bulunya halus sekali.
Aku hanya mengangguk. Bunda, Ayah dan Kak Kaysa datang. Kak Kaysa sudah memeluk sebuah boneka beruang besar. Ia tampak nyaman. Oh, mungkin fungsi boneka itu untuk dipeluk.