Aluna, 2016.
Aku, Irma, dan teman satu angkatanku sedang duduk cemas di belakang panggung, karena sebentar lagi akan tampil. Kami sudah lulus Sekolah Dasar, dan hari ini adalah hari perpisahan. Penampilan paduan suara, lumrah dibawakan pada momen seperti ini.
Ketika yang lain cemas karena takut penampilannya jelek, hanya aku yang mencemaskan Mama dan Papa. Apakah mereka datang? Meski kemungkinan besar tidak, tetap ada satu persen harapan di hatiku. Selama enam tahun aku bersekolah di sini, satu kali pun tidak pernah mereka datang. Sejak sebulan lalu, aku memohon-mohon, tetap saja mereka bilang, tidak dapat dipastikan.
Mungkin karena nilai raporku kurang memuaskan. Selama enam tahun — dua belas semester, peringkatku selalu juara 2. Tidak pernah berubah. Tidak sesuai ekspektasi mereka. Untungnya, aku tidak pernah dimarahi perihal peringkat.
Berat sekali kepala yang ditindih sanggul ini. Bermodalkan uang pinjaman Irma, tadi pagi aku pergi ke salon menyewa satu set kebaya beserta jasa rias wajah murahan. Setidaknya, sama-sama kebaya, entah mahal atau murah. Bagus atau tidak bagus. Nyaman atau tidak nyaman.
“Aluna, kamu mau lanjut SMP di mana?” Tanya Irma membubarkan rasa cemas.
“Aku belum tahu.”
Memang belum tahu. Setiap kali aku bertanya pada Mama atau Papa, jawaban mereka selalu sama: “Kita bicarakan ini nanti.”
Yang jelas, aku tidak akan satu SMP dengan Irma. Ia telah didaftarkan orang tuanya di International School. Mana bisa aku masuk ke sana?
Tiba saatnya kami naik panggung. Kedua mataku awas mencari Mama dan Papa di sela-sela penonton lain. Ternyata tidak ada. Sudah kupastikan tidak ada yang terlewat. Memang tidak ada.
Fokusku beralih kepada alunan musik, memastikan apa yang keluar dari mulut tidak ada yang salah. Lagu Hymne Guru, lanjut Terima Kasih Guruku lancar kami bawakan.
Kami mengira, penampilan sudah usai. Namun, Pak Dodi, selaku MC, mengucapkan kalimat perintah yang paling sakit dan paling kubenci.
“Silakan ajak orang tuamu naik ke panggung ini. Ucapkan terima kasih dan peluk mereka. Kalau bukan karena mereka, kalian mungkin tidak bisa bersekolah.”
Sakit. Rasanya seperti dipermalukan. Semua anak menggandeng orang tuanya masing-masing. Aku? Tidak ada yang bisa kuraih tangannya. Tidak bisa. Aku malu sekali. Seluruhnya menatapku.
Jadi pusat perhatian itu menyebalkan. Memalukan. Apalagi ketika Pak Dodi bertanya dengan pengeras suara.
“Aluna, orang tuamu tidak datang?”
Semua orang jadi tahu. Aku benci!
Tiba-tiba, seperti ada yang meraih pundakku. Aku tercekat. Itu Bunda. Ia berbisik.
“Tenang, Nak. Ada Bunda.”
Ketika aku menoleh, ternyata Irma bersama Ayah dan Bunda kini bersamaku. Kenapa Ayah, Bunda, dan Irma, sebaik ini padaku?
Padahal, tidak perlu seperti itu. Aku merasa tidak enak dan menyusahkan mereka. Kasihan Irma, dia juga mungkin ingin dipeluk bundanya, bukan hanya ayahnya.
Tubuhku kaku, tidak tahu bagaimana caranya merespon pelukan Bunda. Agak canggung. Karena sebaik apa pun Bunda, dia tetaplah orang lain. Bukan ibuku.
Aneh sekali, seperti ada rasa yang tidak bisa kujelaskan ketika Bunda memelukku. Sedikit ingin menangis, sedikit takut, tapi, sedikit hangat. Semuanya bercampur membentuk sebuah rasa yang aku tidak tahu apa namanya. Rasa ini baru pertama kali muncul. Muncul ketika pertama kali aku mendapatkan pelukan.
Bunda menangis. Ini juga aneh sekali. Mengapa Bunda menangis? Bahkan hampir semua yang ada di atas maupun di depan panggung menangis juga. Mengapa? Apakah momen perpisahan ini menyedihkan? Bukannya seharusnya bahagia karena sudah lulus setelah berjuang selama enam tahun?
Terkadang, aku tidak sepenuhnya memahami isi hati kebanyakan orang. Apakah aku aneh?