LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #8

Semua Pekerjaan Sama-Sama Menghasilkan Uang

"Ayah dan Bunda Ingin aku menjadi dokter jika sudah besar nanti. Jadi, sejak kecil, aku diarahkan untuk pintar dan menjadi juara di sekolah. Agar bisa masuk sekolah kedokteran." Irma menjelaskan, Raina bengong.

"Oh, begitu. Bagus, dong. Tapi, apa hubungannya dengan menggambar?" Aku membetulkan posisi duduk.

"Kata mereka, menggambar itu buang-buang waktu. Lebih baik aku belajar saja. Jadi, setiap pelajaran menggambar di sekolah, aku asal gambar saja supaya cepat selesai. Sisa waktunya bisa kugunakan untuk belajar."

"Tapi, kamu melakukan itu dengan senang hati?"

"Maksudmu?"

"Kamu benar-benar ingin menjadi dokter, atau terpaksa menuruti orang tuamu?"

"Aku tidak mau membuat mereka sedih. Semua permintaan mereka, aku lakukan."

"Enak, ya, jadi kamu. Masa depan sudah kelihatan jelas. Orang tuamu membantu mengarahkan. Kalau orang tuaku, sibuk semua. Untuk membahas sekolahku saja, mereka tidak ada waktu. Aku jadi bingung mau lanjut SMP di mana. Cita-cita saja aku tidak tahu."

“Hobimu apa?”

“Hmm ... aku tidak tahu juga." Aku menghela napas pasrah.

"Bukannya kamu suka Matematika? Berarti hobi kamu itu belajar Matematika."

"Hah? Memangnya belajar itu hobi?"

"Iya. Nah, karena hobimu belajar Matematika, cita-citamu itu bisa jadi ilmuwan, dosen, guru, peneliti. Itu saja yang aku tahu. Kamu bisa pilih saja salah satunya."

"Aku masih tetap bingung. Nanti saja deh aku pikirkan lagi."

***

Semua pekerjaanku hari ini sudah selesai. Kakak dan Adik sudah tidur pulas. Aku ingin belajar Matematika. Meskipun UN dan seluruh ujian di Sekolah Dasar telah terlewat, aku masih tetap ingin bertemu dengan ratusan rumus-rumus itu. Mereka adalah sahabat yang menemaniku setiap malam sebelum tidur.

Buku paket Matematika Kelas 6 yang sudah sangat lusuh dengan perlahan dibuka lembar demi lembar. Seluruhnya telah penuh dengan coretan-coretan angka. Semua latihan soal telah ditemukan jawabannya. Meski begitu, aku tetap mengisinya berulang-ulang kali.

Rasa kantuk datang tiba-tiba. Kurebahkan tubuh kurus kerontang ini di kasur yang tipis. Semoga besok mentari datang membawa harapan. Semoga dia berbaik hati mengizinkan sinarnya menerangi pikiranku yang gelap gulita.

Hari esok datang lagi. Tugasku masih sama seperti kemarin. Mengurus Kakak dan Adik. Saat menyuapi Kakak, kupandangi tubuh ringkihnya dengan seksama.

Apakah dia memiliki cita-cita? Bagaimana caranya dia akan menggapai cita-cita itu? Apakah seumur hidupnya akan tidak berdaya seperti ini? Ah, aku tidak tega membayangkannya.

Baru kusadari, dunia jahat sekali pada Kakak. Betapa frustrasinya dia ketika semua khayalan di benaknya tak pernah bisa terwujudkan. Bagaimana mewujudkannya, bahkan untuk berjalan dan berbicara pun ia tidak bisa.

Semua orang punya mimpi. Namun sebagian dari mereka tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Sebagian lagi mimpinya terhalang jahatnya realita dan kerumitan dunia. Sebagian lagi belum tahu bagaimana caranya bermimpi.

Aku termasuk golongan terakhir. Bagaimana caranya bermimpi? Mungkin Tuhan masih menyembunyikan jawabannya.

Kalau Kakak, dia golongan nomor tiga. Mimpinya terhalang realita. Realita menyakitkan, yaitu lumpuh seluruh tubuhnya seumur hidup. Atau dia golongan terakhir, sama sepertiku? Entahlah.

Lihat selengkapnya