"Aluna, Papa belum selesai bicara, dengarkan dulu!" Mama menarik selimut dan bantalku.
"Aluna, uang kami sudah habis untuk biaya terapi Kaysa dan transfusi Raina. Kalaupun kamu mau sekolah di SMP Negeri yang gratis SPP, tetap harus ada biaya untuk seragam, alat-alat tulis, dan lain-lainnya. Kami tidak punya tabungan lagi. Kamu harus mengalah dengan Kakak dan adikmu. Mereka sakit dan lebih membutuhkan uang."
"Aku kan juga butuh sekolah, Pa. Sekolah juga penting."
"Aluna, jangan membantah, dong, kamu harus menuruti apa kata orang tua kalau tidak mau jadi anak durhaka!" Mama menyergah.
"Iya, Papa tahu, tapi kesehatan jauh lebih penting. Sekarang, kami utamakan kesehatan Kaysa dan Raina dulu. Papa sudah bekerja siang malam, lembur setiap hari, tapi tetap belum cukup uangnya. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini keputusan terbaik. Kamu harus mengalah demi kakak dan adikmu."
Memang benar apa yang dikatakannya. Papa jarang di rumah, pagi, siang, malam, bekerja, mengumpulkan uang. Tidak terkumpul juga. Terapi kakak, transfusi adik, menghabiskan banyak biaya. Ya sudahlah. Biar aku berhenti sekolah. Memang harus aku yang mengalah.
Meskipun pendidikan itu penting, tapi kesehatan jauh lebih penting, kata mereka. Memang benar. Mau bagaimana lagi.
Semalaman aku tidak bisa tidur. Berpikir dan terus berpikir. Apa pun alasannya, tidak menghalangi keinginanku untuk terus bersekolah. Masalahnya adalah, bagaimana caranya?
Inginku benar-benar tidak bisa dibendung. Bagaimanapun caranya, aku akan tetap lanjut sekolah! Pikiranku berkelana lagi. Tidak ada rasa kantuk sama sekali hingga pagi menjelang.
Sampai ketika matahari telah terbit, baru ada satu hal yang mengisi pikiran. Bagaimana jika aku bekerja, mengumpulkan uang untuk biaya sekolah? Perlu waktu cukup lama untuk sekadar cukup membayar SPP. Belum lagi untuk jajan, peralatan sekolah, seragam, menabung, atau barangkali ada iuran-iuran.
Maka, biar aku bersekolah di SMP Negeri saja agar gratis SPP dan uang pendaftaran. Sedangkan uang yang akan aku kumpulkan untuk bayar keperluan lain dan bekalku.
Waktu liburan masih cukup panjang. Bisa dimanfaatkan untuk bekerja, menghasilkan uang. Target: beli seragam dan alat-alat tulis. Maka, saat itu juga, aku beranjak dari tempat tidur, menyiapkan sarapan sederhana untuk Kakak, Adik, Mama, dan aku. Papa sudah berangkat kerja tanpa sarapan.
Semua tugas di hari ini aku selesaikan secepat mungkin pada pagi hari. Setelah itu, aku mandi, bersiap-siap.
"Aluna, sudah mandi? Mau ke mana?" Mama tidak sengaja menoleh ke kamarku karena pintunya terbuka.
"Mau bekerja, Ma. Mengumpulkan uang untuk beli perlengkapan sekolah."
"Kerja? Haha ... memangnya kamu bisa kerja apa? Ada-ada saja." Mama melengos pergi.
Ketika sudah selesai bersiap, aku berpamitan kepada Kakak dan Adik. Dua wanita tersayangku.
Sesungguhnya, langkah ini penuh keraguan. Bagaimana jika memang aku tidak becus bekerja, seperti kata Mama yang meragukanku. Bisa kerja apa? Namun, tekad untuk lanjut sekolah dan kecintaan pada Matematika mendorong langkah kakiku kuat-kuat.
Warung makan Bu Mirna, langganan keluarga kami, menjadi target utama. Aku tahu, warung itu ramai sekali. Tetapi Bu Mirna hanya memiliki satu karyawan. Kesempatan emas untukku menawarkan diri di sana.
"Aluna, mau makan apa?" Bu Mirna menyadari kehadiranku.
"Saya tidak mau makan, Bu, hehe ...."
"Oh, mau dibungkus? Lauknya apa?"