TRIGGER WARNING
“Aku mau ikut Kak Luna kerja. Aku mau membantu Kak Luna,” ujar Raina.
“Jangan, Dik. Kamu pulang saja, ya? nanti Mama marah, Lho.”
“Nggak, kok. Mama, kan, tidak pernah marahi aku.”
Oh, iya, ya. Mama tidak pernah marah sama sekali kepada Rania, juga Kak Kaysa.
“Tapi nanti kamu capek. Pulang saja, ya? Biar Kak Luna antar.”
“Tidak mau! Aku mau di sini saja. Tenang, aku tidak akan beri tahu Mama, kok. Kak Luna takut dimarahi Mama, kan?”
“Ya sudah kalau kamu mau di sini. Tapi kamu duduk saja, ya. Jangan lakukan apa pun. Biar Kak Luna saja yang kerja.”
“Oke!”
Ia duduk di kursi plastik, tidak jauh dari tempatku mencuci ratusan piring. Janjinya ditaati. Hanya duduk diam, tidak melakukan apa pun. Wajah manisnya memberikan tambahan energi untukku. Terlepas apa kata dokter tentang vonis penyakitnya, aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika suatu saat harus kehilangan dia.
Untuk adikku, aku tahu ragamu sangat lemah. Mudah lelah, mudah sakit. Namun, tenang saja, akan kuusahakan apa pun untukmu sebisaku. Setidaknya untuk membuatmu selalu bahagia menikmati kehidupan singkat ini.
***
Mbak Nisa bolak-balik membawa tumpukkan piring-piring kotor. Namun, siapa sangka, ketika akan meletakkan tumpukkan itu di dekatku, salah satu piring terjatuh dan pecah.
Beling-beling berhamburan ke sana ke mari, salah satunya memantul, menancap di dahi Raina. Refleks ia menjerit dan mencabut beling tersebut. Darah segar mengalir deras sekali.
Semua terpaku beberapa detik dengan mata melotot. Syok. Tanpa pikir panjang, tubuh Raina kugendong sembari berlari menuju rumah kami. Raina menangis dan menjerit sepanjang jalan.
Mama terkejut melihat wajah Raina yang dipenuhi darah.
“Raina?! Kenapa, Nak? Raina ….” Mama berlari menghampiri, mendekap, menekan luka dengan tangannya.
“Aluna, hubungi ambulans! Cepat!”
Aku tergopoh-gopoh mencari ponsel milik Mama, menekan tombol darurat.
“Sabar, ya, Nak. Ambulans akan datang. Sabar, ya, sayang.” Mama membersihkan darah di wajah Raina dengan tisu. Lukanya ditutup dengan balutan kain agar aliran darah terhenti.
Aku tidak tega melihatnya. Seluruh tubuhku bergetar. Yang bisa kulakukan hanya meremas-remas jari, menggigit bibir, sembari memandangi wajah pucat Raina.
Ini salahku. Ini salahku.
***
Adik sudah aman. Lukanya sudah dijahit dan diperban. Kini, ia sedang tergeletak lemah di kasur, memeluk boneka. Sepertinya masih syok dengan apa yang terjadi. Mama duduk di sampingnya, sembari memberikan ribuan usapan lembut di kedua kakinya.
Sedangkan aku, berdiri di pojok dapur, dengan satu kaki. Tidak boleh bergerak sedikit pun sejak beberapa jam yang lalu. Ini hukuman. Aku memang pantas menerimanya.