LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #11

Putus Sekolah atau Terima Tawaran?

Hari ini, bagi anak-anak seusiaku, adalah hari pertama masuk Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan aku masih harus berjuang mengumpulkan uang untuk sekadar membeli seragam.

Beberapa kali uangku terkumpul, sebanyak itu pula Mama meminjamnya untuk membeli popok Kak Kaysa. Niat untuk membeli seragam dan alat-alat tulis tidak pernah terlaksana hingga sekarang.

Tidak jarang, pikiranku melayang-layang. Bagaimana jika aku tidak punya kesempatan untuk melanjutkan sekolah lagi? Mengumpulkan uang yang tidak pernah terkumpul?

Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku inginkan ketika besar nanti. Yang jelas, aku tidak mau putus sekolah. Tidak mau berhenti belajar. Apa yang akan terjadi setelah lulus sekolah nanti, aku belum mau memikirkannya.

Lamunanku buyar ketika tiba-tiba Irma menepukkan lengan di pundakku.

"Aluna? Tidak sekolah? Kamu, kok, di sini? Sedang apa?"

Aku sedang tidak ingin bertemu siapa pun yang aku kenal hari ini. Kecuali Bu Mirna dan Mbak Nisa. Malas sekali aku menjawab pertanyaan Irma. Dengan enggan, tetap kujawab.

"Kamu sendiri, tidak sekolah? Sedang apa di sini?"

"Aku masih libur. Besok baru masuk. Tadinya aku mau ke mall beli sesuatu, bersama supirku. Tapi aku lihat kamu sedang duduk sendirian di depan warung yang masih tutup ini. Eh, ngomong-ngomong, kamu daftar di SMP mana?"

Telingaku seperti terbakar mendengar kalimat terakhirnya.

"Irma, mulai sekarang, aku bukan temanmu lagi. Aku tidak layak untuk menjadi temanmu!" Aku beranjak meninggalkan Irma yang masih tercengang.

"Maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti, Aluna. Apa yang terjadi?" Suaranya terdengar dari kejauhan.

Aku masuk ke warung lewat pintu belakang, tak menghiraukan Irma. Rasanya, aku tidak pantas berteman dengan Irma. Sangat bertolak belakang. Dia bersekolah di SMP yang bagus, mana cocok bila berteman denganku yang tidak sekolah? Aku memilih menjauh.

Hanya akan merepotkan jika aku menjadi temannya. Biarkan ia mencari teman lain yang cocok untuknya, yang jelas bukan aku. Biarkan ia menikmati masa SMP-nya tanpa aku.

Bu Mirna datang, menyapaku yang sedang menyapu lantai.

"Aluna, ada temanmu di depan. Temui dulu sana!"

"Hmm …, dia bukan temanku, Bu. Aku tidak punya teman."

"Masak, sih? Dia panggil-panggil kamu terus, loh."

"Iya, Bu. Dia bukan temanku."

Lihat selengkapnya