Tawaran Ayah dan Bunda sudah kutolak. Tawaran Bang Beni? Sangat sulit untuk dipertimbangkan. Alasannya adalah, selain sekolah, ia juga menawarkanku akan mendaftarkanku les Matematika enam tahun penuh. Siapa sih yang tidak mau?
Jujur, aku sangat-sangat tertarik. Hanya saja, seperti yang barusan kukatakan, kawan, aku tidak mau menjadi beban bagi orang lain.
Ah, kepalaku rasanya ingin meledak. Hari ini aku tidak sanggup bekerja dengan bom pikiran aktif di dalam kepala.
Kuajak Kak Kaysa berjalan-jalan ke taman kota dekat rumah. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, mengeraskan tawa. Ribuan burung hilir mudik membuat hormon serotoninnya meningkat drastis.
Aku selalu senang melihat tawanya. Sebelum rasa senang itu berubah menjadi miris ketika menyadari bahwa tertawa adalah satu-satunya hal yang bisa Kak Kaysa lakukan. Seluruh tubuhnya lumpuh. Mungkin, mimpinya juga.
Seperti biasa, meski tak ada jawaban, aku selalu mengajak Kakak berbicara.
"Kak, aku ingin disekolahkan oleh Bang Beni. Menurut Kakak bagaimana?"
"Hmm ..." gumamnya.
"Aku tidak mau merepotkan orang lain, Kak."
Tidak ada jawaban.
"Kenapa Bang Beni mau menyekolahkanku, ya, Kak?"
Kak Kaysa tertawa lagi.
"Kalau aku terima tawarannya, dengan apa aku membalasnya?"
Pandangannya beralih melihat dedaunan hijau.
"Kalau aku terima tawarannya, nanti aku harus berpisah dengan Kakak dan Adik Raina."
Tawanya terhenti.
"Aku benar-benar bingung, Kak."
Ah, kenapa tidak kutanyakan langsung saja pada Bang Beni, alasan dia mau menyekolahkanku? Tidak mungkin dia mau bayar mahal-mahal tanpa alasan?
Tetapi, bagaimana kalau Bang Beni malah merasa tersinggung? Bagaimana kalau aku dianggap curiga, atau tidak percaya dengannya? Aduh, kepalaku semakin sakit.
Mentari semakin terik. Aku dan Kak Kaysa beranjak pulang. Kak Kaysa masih sibuk melihat rumput dan pohon bergoyang-goyang.
Sampai di rumah, Mama sedang menyapu halaman. Banyak sekali dedaunan kering berserakan.
“Aluna, kamu ikut saja dengan Beni. Supaya kamu bisa lanjut sekolah,” kata Mama.
“Memangnya kenapa, Ma?” Aku penasaran dengan alasannya.
“Sebenarnya, Mama khawatir kalau kamu putus sekolah. Nanti kamu tidak punya ijazah. Kalau hanya mengandalkan ijazah Sekolah Dasar, kamu akan sulit cari kerja. Kamu tidak mau, kan, jadi tukang cuci piring seumur hidup?”