LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #13

Hari Pertama Sekolah

“Aluna, ayo cepat! Hari sudah mulai gelap.”

“I-iya, Bang.” Kuhampiri Bang Beni dengan keringat bercucuran.

“Kamu kenapa? Capek, ya? Duduk saja dulu. Biar Abang bayar dulu ke kasir.”

Keranjang diambil alih olehnya. Tidak ada ekspresi marah sama sekali. Justru yang terlihat adalah raut heran. Mungkin, karena aku gemetar hebat.

“Aluna, kita mampir ke Gramedia, ya. Beli buku-buku untuk referensi belajar. Guru sekolah dan guru lesmu sudah mengirimkan list bukunya.”

“Guru les? Aku sudah didaftarkan les?” Aku agak sedikit tidak menyangka.

“Iya. Les Matematika. Sesuai yang Abang janjikan. Juga ada beberapa les lain. Tidak apa-apa,kan?”

“Wah, tidak apa-apa, Bang.” Hatiku berbunga-bunga. Ternyata janjinya benar-benar ditepati. Akhirnya aku akan bertemu dengan Matematika lagi.

Mobil melaju dengan cepat. Aku masih senyum-senyum sendiri sembari memandang keluar jendela. Di sini, tidak perlu lagi bekerja pagi, siang, malam, untuk membeli keperluan sekolah. Juga buku dan biaya sekolah. Betapa mudahnya kehidupan orang kaya, pikirku.

Aku berjanji, akan bersungguh-sungguh dalam belajar agar masa depanku lebih baik. Agar bisa mendapatkan pekerjaan yang gajinya besar, seperti Bang Beni. Agar tidak lagi menyusahkan Papa dan Mama. Agar bisa membawa Kak Kaysa dan Raina berobat ke rumah sakit yang bagus.

Tulisan Gramedia terpampang besar-besar di depan gedung ini. Sejak langkah pertama dari pintu masuk, tumpukkan buku berjejal-jejal memenuhi seluruh isi gedung.

Aku baru pertama kali melihat toko buku secara langsung. Bang Beni masuk semakin ke dalam. Wah, ternyata di dalam lebih luas lagi. Rak-rak tinggi sekali tertata rapi dipenuhi berwarna-warni bacaan. Tak hanya itu, ribuan pulpen, spidol, pensil, cat, juga tertata rapi di rak.

Pikiranku teraihkan ke sebuah rak bertuliskan ‘Buku Anak,’ Karena sampulnya penuh dengan gambar dan warnanya cerah mencolok.

Satu per satu buku itu kuambil dan baca bagian belakangnya. Semuanya memiliki cerita yang berbeda. Ternyata, membaca seru juga, ya? Meski hanya sepenggal cerita.

Pikiranku teralihkan lagi. Ada beberapa buku dengan tulisan besar di sampulnya: ‘Kecil-Kecil Punya Karya.’ Apa maksudnya?

Setelah kulihat bagian belakangnya, terdapat nama penulis dan usianya. Kawan, coba tebak apa yang membuatku terkejut. Usia penulisnya tiga belas tahun, sama denganku. Aku langsung berpikir, bagaimana bisa anak kecil menulis buku sendiri?

Bahkan, setelah aku lihat beberapa buku di sekitarnya, banyak di antara penulisnya yang berusia lebih muda. Sebelas, sepuluh, sembilan, dan delapan tahun. Bagaimana caranya mereka membuat buku, ya?

“Aluna, mau beli buku itu?” Bang beni membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk ragu.

“Boleh. Beli yang banyak. Jangan cuma satu.”

Tentu saja aku kegirangan. Kuambil lima buku. Sungguh penasaran bagaimana tulisan dari anak-anak hebat ini.

Jalanan tetap ramai meski telah larut. Aku sudah tidak sabar untuk membaca. Salah satu buku yang kubeli tadi, dirobek sampulnya. Menguar bau harum menenangkan darinya. Wah, ternyata buku baru itu wangi, ya.

Lihat selengkapnya