Seluruhnya saling mengobrol satu sama lain, berkelompok-kelompok. Hanya aku yang duduk sendirian. Sembari menunggu guru datang, buku bacaan karya Kak Pelangi, kubuka kembali. Pikiranku tenggelam ke dalam lembaran-lembaran halaman di dalamnya.
“Hai!”
Jantungku melonjak. Alex tiba-tiba sudah berada di kursi kosong sebelahku. Aku membenci dia. Bahkan sejak pertama kali bertemu. Ia selalu mengusik. Dasar pengganggu! Tak kuhiraukan, ia mendekatkan wajahnya ke telinga.
“Hai, Aluna!”
Kuarahkan buku menutupi kepala, membuat batasan dengan dia.
“Eh, lihat, deh! Ada yang pacaran di hari pertama sekolah, hahaha ….”
Seorang wanita berambut ikal dengan bando merah bata, berteriak hingga seisi kelas menoleh padaku. Aliran darahku membeku. Kedua telapak tangan mendadak basah oleh keringat yang terasa sangat dingin.
Bagaimana ini? Seluruh tatapan mata mengarah ke sini. Menyeramkan sekali. Ingin rasanya aku menghilang saja. Untungnya, Pak Guru datang. Perhatian mereka teralihkan. Meski begitu, keringat dingin tetap mengalir deras.
Guru itu bernama Pak Tris. Beliau adalah wali kelas kami. Setelah ia memperkenalkan diri, kini giliran kami. Jantungku berdetak keras. Satu per satu nama disebut, hingga tiba saatnya untukku.
Dengan gemetar, aku terpaksa maju. Kini, seluruh tatapan mata mengarah padaku lagi. Ah, benci sekali.
“H-hai, teman-teman, Namaku Aluna …”
Lalu, mendadak pikiranku tertutup, tidak bisa dijangkau. Gelap. Dan kedua bibir ini kaku, tidak bisa mengatup.
“Lho, kok, bengong?” Sela Pak Tris sembari bergestur lucu, membuat seluruhnya tertawa.
Aku ingin melebur menjadi debu saja. Bisa-bisanya lupa di depan semua tatapan mata itu? Ah, payah sekali! Di saat yang lain lancar-lancar saja memperkenalkan diri masing-masing, mengapa aku tidak bisa? Bodoh sekali.
Kalau perkenalan saja tidak bisa, bagaimana dengan pelajaran yang lain? Lalu, dengan getaran tubuh yang semakin cepat, aku kembali duduk.
Pada hari pertama sekolah, hatiku carut-marut seperti kumpuan benang bermacam warna yang tidak pernah dibereskan. Kenapa harus ada Alex, kenapa pikiranku terblokir ketika perkenalan, kenapa semua tertawa, dan kenapa-kenapa yang lain.
Bel pulang telah dibunyikan. Om Bagus terlihat dari jauh, sudah menunggu di depan gerbang. Aku berjalan perlahan ke arahnya. Eh, tapi, tunggu dulu. Aku melihat seseorang yang tidak asing di depan kelas 8A. Sepertinya aku pernah melihat dia, entah di mana.
Ia memakai stocking warna-warni dan jepit rambut besar dengan motif pelangi. Pelangi! Ya, Kak Pelangi yang bukunya berulang kali kubaca itu. Kak Pelangi bersekolah di sini?
Aku menatapnya lekat-lekat, membandingkan dengan fotonya yang berada di belakang buku. Benarkah ia Pelangi yang kuidolakan?
“Iya, benar! Itu Kak Pelangi.”
Aku terlonjak mendapati Alex sudah berada dekat sekali denganku. Huh, aku benci dia! Kenapa selalu mengikutiku kemana pun?
“Kamu ngefans sama dia, ya?” Sambungnya.