Malam ini, ketika akan lanjut menulis, aku dikejutkan oleh ketukan pintu. Bibi minta izin untuk masuk. Aku bingung, mengapa tidak langsung masuk saja? Toh, ini kan bukan rumahku.
Padahal di rumah, Mama dan Papa tidak pernah izin jika ingin masuk kamarku. Kan, kamar anak mereka sendiri, mengapa harus izin?
“Masuk saja, Bi,” teriakku.
“Kak, ini ada telepon dari mamanya.”
“Mama?”
Kebetulan, aku sedang rindu berat dengan Adik. Siapa tahu Adik juga mau bicara padaku.
Bibi melangkah pergi, lalu menutup pintu. Meninggalkan ponselnya di tanganku.
“Aluna?”
“Iya, Ma. Ada apa?”
“Aluna, Mama butuh uang untuk popok Kaysa. Uang Papa habis untuk biaya terapi bulan ini. Tolong transfer, ya!”
“Uang?”
“Iya. Nanti Mama kirim nomor rekeningnya.”
“Tapi, kan, aku di sini sekolah, Ma. Bukan kerja. Aku tidak pegang uang sama sekali. Semua Bang Beni yang atur.”
“Ya sudah. Kamu minta saja padanya. Bilang saja untuk kakakmu.”
“Tapi, Ma …”
“Ah, alasan saja kamu! Kasihan Kaysa, lho. Kalau popoknya habis, bagaimana? Belum lagi Raina harus transfusi besok. Kamu tega?”
“Maaf, Ma. Tapi aku takut merepotkan Bang Beni ... Oh, iya, Adik mana? Aku mau bicara dengan Adik.”
“Banyak mau! Dasar tidak tahu terima kasih! Sudah dilahirkan, dibesarkan, orang tua minta uang saja tidak dikasih. Anak durhaka!”
Panggilan terputus. Lebih tepatnya sengaja ditutup.
Aku terdiam. Menatap layar ponsel yang meredup. Apa yang harus aku lakukan? Minta uang pada Bang Beni yang sudah banyak pengeluarannya demi aku? Tidakkah itu dinamakan tidak tahu diri? Tetapi kalau tidak menuruti perkataan Mama, apakah berarti anak durhaka? Ah, pusing sekali.
Mengapa Mama dan Papa selalu menambah rasa cemas dalam kepalaku? Cemas karena takut menjadi durhaka. Cemas karena aku takut berbuat salah di hadapan mereka. Cemas karena aku takut menambah beban mereka. Maka dari itu, tidak ada rasa rindu sama sekali di dalam hatiku pada mereka. Apakah aku sudah menjadi anak durhaka?