Perhatianku tertuju sepenuhnya pada rak berisi berbagai macam topi. Sebelumnya, Kak Maudy sudah membebaskanku untuk mengambil apapun. Ku rasa aku akan memilih topi saja. Keranjang belanja Kak Maudy yang dibawakan Bibi sudah terisi penuh.
Bibi menatap heran ke arahku.
“Kak Luna, mau beli topi?”
“Iya, Bi. Memangnya kenapa?”
Aku pun heran. Apakah masalah kalau aku beli topi?
“Ya, sayang, Kak. Nanti rambut cantiknya ketutupan dong kalau pakai topi.”
“Ish, Bibi. Nggak apa-apa dong. Terserah dia maunya apa. Bebas,” Kak Maudy memotong.
Benar juga apa kata Bibi. Apa aku tidak jadi beli saja ya? Ah, tidak apa-apa deh. Kalaupun nantinya tidak kupakai, aku akan berikan untuk Adik saja.
Selesai belanja aksesoris, Kak Maudy mengajak kami untuk berbelanja baju.
“Kamu mau baju yang seperti apa, Aluna?” Tanya Kak Maudy.
“Hmm, aku belum tahu, Kak.”
“Sepertinya kamu lebih cocok pakai kaos deh. Kamu mau?”
“Boleh, Kak.”
Beberapa kaos polos dan kaos bergambar dengan warna yang berbeda-beda diambilnya. Diserahkan pada Bibi. Lalu Bibi mengajakku ke fitting room. Seluruh baju kucoba satu persatu.
“Bagus semua. Cocok dipakai Kak Aluna,” komentar Bibi.
Ternyata Kak Maudy menyusul, membawakan lima potong celana panjang berbagai model. Aku mencobanya juga. Lagi-lagi semuanya pas. Bibi terperangah.
“Cantiknya!”
Malam telah larut ketika kami pulang. Sembilan tas belanja besar diturunkan dari bagasi oleh Om Bagus.
“Tolong bawakan semuanya ke kamar Aluna, ya, Bi.”
Seluruhnya untukku? Bukannya tadi Kak Maudy belanja banyak juga ya?
Aku mengekori Bibi.
“Bi, ini semua untuk aku?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Iya, Ibu membelikan semua ini untukmu. Nanti Bibi bantu bereskan, ya. Sekarang istirahat saja dulu.”
Setelah Bibi keluar dari kamar, aku melompat membuka tas-tas itu satu persatu. Ada puluhan aksesoris seperti bando, jepit rambut, tali rambut, gelang, kalung, dan anting.