LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #17

Kak Kaysa

Kedua mataku tidak bisa terpejam semalaman. Mama berbaring gelisah dengan kepala berbantalkan paha Papa. Bang Beni dan Kak Maudy sudah pulang. Kakak sudah beberapa hari dititipkan di rumah Tante Susi. Merepotkan, memang, tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kami bawa menginap di ruang tunggu rumah sakit tanpa kasur ini.

Monitor belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan apapun. Adik tidak bisa bernapas jika tidak dibantu ventilator.

Selain jam-jam tertentu, kami tidak diperbolehkan bertemu Raina. Jadi sejak datang kemarin, aku belum bertemu langsung dengannya. Padahal aku sangat merindukan wanita kesayanganku itu.

Raina, entah apa yang terjadi pada tubuhmu, ketahuilah, aku ada di sini, terus menungumu. Bertahanlah, kuatlah.

Rombongan dokter dan perawat berbondong-bondong menuju ruang ICU. Ada apa? Mereka berhenti di depan Adik, sibuk mengotak-atik alat-alat di dekatnya. Apakah terjadi sesuatu yang serius? Buru-buru kubangunkan Mama dan Papa. Kami mengintip dari jendela kaca dengan suara detak jantung yang terdengar satu sama lain.

Satu orang perawat menghampiri kami.

“Bapak, Ibu, anak Anda membutuhkan RJP. Kami minta izin untuk …”

“Iya, saya izinkan. Cepat lakukan.” Papa memotong penjelasan dari perawat sebelum ia selesai berbicara.

Sang perawat berlari kembali. Aku tidak mengerti apa itu RJP. Namun melihat kepanikan mereka, pasti terjadi hal yang sangat serius.

Aku tidak tahu pasti berapa tepatnya, tetapi sekitar sepuluh orang tenaga medis sibuk berlarian di sekitar ranjang Raina. Ketika aku perhatikan lebih jelas, beberapa orang bergantian menekan-nekan dada Adik dengan cepat.

Ada yang menyuntikkan sesuatu ke selang infusan, ada yang fokus memandangi monitor sambil berbicara, ada juga yang memeriksa selang-selang yang menempel di tubuh adik.

Sementara beberapa lainnya berlarian entah melakukan apa. Mama menangis terus dipelukan Papa. Aku duduk sendiri agak jauh dari mereka agar bisa melihat dengan jelas tindakan para tenaga medis di dalam.


Beberapa menit telah terlewati dan Adik berhenti di tekan-tekan. Mereka seluruhnya mengecek monitor dan alat-alat di sana. Salah satu dokter mengangguk perlahan. Aku perhatikan kini gerakan mereka lebih lambat, padahal tadi semua serba cepat. Apa yang terjadi?

Seorang dokter ditemani tiga orang perawat keluar.

“Jantung Raina sudah kembali berdetak, namun kondisinya masih belum stabil. Kita akan terus memantau dan memastikan Raina tetap aman. Jadi Bapak dan Ibu tidak usah khawatir,” Begitu kata dokter.

Wajah panik Papa dan Mama berangsur menghilang, serta senyum terpancar samar. Sedikit perasaan lega menjalar, Adik masih bisa tertolong.

Mama memalingkan wajah padaku.

“Aluna, kamu pulang dulu sana! Urus Kaysa di rumah. Kasihan Tante Susi kerepotan.”

Pakaian dan beberapa barang kukemasi. Sesuai perintah Mama, aku akan pulang meski rasa khawatir ini terus mengintai. Tak mengapa, toh aku pun ingin mengurus Kakak di rumah. Rindu.

***

Siang hari yang terik, angkutan kota dipenuhi dengan anak-anak berseragam kumal. Bau matahari semerbak dari keringat mereka usai setengah hari beraktivitas di sekolah. Dahulu aku pun sama seperti mereka, jadi aku tidak keberatan sama sekali.

Tante Susi menyapa setelah berkali-kali kuketuk pintu depan rumahnya.

Lihat selengkapnya