“Kita tunggu di sini saja ya, Aluna. Tante akan temani kamu dan Kaysa sampai mereka datang.” Tante Susi terus berusaha menenangkanku meski air matanya juga tidak berhenti mengalir.
Tidak mungkin! Kemarin Raina sudah membaik. Detak jantungnya sudah kembali. Tidak mungkin secepat itu. Tante Susi bohong! Pasti dia bohong!
Mobil ambulans datang diiringi dengan mobil milik Bang Beni. Pasti Raina sudah sembuh, pikirku. Raina sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Bang Beni datang untuk menjenguknya. Karena Bang Beni berjanji kalau Raina pulang dari rumah sakit, ia akan menjenguknya kembali lalu mengajak jalan-jalan.
Para tetangga berdatangan satu persatu ke rumah kami. Mereka menyalamiku dan mengucapkan ungkapan duka cita.
Tidak! Adik sudah sembuh! Mengapa mereka berkata seperti itu?
Papa turun dari ambulans, lalu menuntun Mama keluar. Wajah mereka sembab sekali. Mata mereka bengkak dan merah. Kenapa? Apa yang mereka tangisi? Adik sudah sembuh, kan?
Bagasi mobil dibuka, terlihat peti jenazah di dalamnya.
Aku tersentak hebat, aku berlari menghampiri Mama. “Adik sudah sembuh kan, Ma?”
Mama menangis, tidak menjawab.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Tetapi air mataku tumpah ruah. Tangisanku dan Mama semakin tak terbendung. Kak Maudy, Tante Susi, Bibi, dan entah siapa, aku tidak perduli, memeluk dan membawa tubuhku untuk direbahkan di dalam rumah. Aku tidak punya kendali atas tubuhku sendiri, hanya bisa menangis dan menangis.
Peti jenazah belum dibuka. Mungkin di dalamnya bukan Raina, kan? Seketika tenagaku kembali. Aku bangkit dan mendekati peti itu. Lalu ketika tutupnya dibuka, sedikit demi sedikit aku bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Itu memang Raina.
Ternyata Tante Susi tidak berbohong. Raina, wanita tersayangku, sudah tidak ada lagi di dunia. Artinya setelah ini aku tidak akan pernah bisa melihat wajahnya lagi. Hanya pantulan gambarnya saja di foto. Aku tidak akan bisa bermain dengannya lagi. Tidak bisa mendengar suaranya lagi. Oh tidak, mengapa ini harus terjadi?
Pandanganku tiba-tiba berkabut. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi. Pingsan mungkin.
Bagaimana caranya aku tetap melanjutkan hidup setelah kehilangan salah satu wanita tersayangku? Vonis dokter ternyata benar saat itu. Usianya tidak akan panjang.
Mengapa harus Adik yang mengalami ini?
***
Entah bagaimana, hidup memaksaku untuk terus berjalan. Tidak bisa aku berlarut-larut dalam kesedihan. Kakak masih membutuhkanku. Dan sudah berhari-hari sejak ditinggalkan Adik, Mama tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak mau bangkit dari tempat tidur Adik, memeluk fotonya sepanjang hari. Itu membuat pekerjaan rumah terbengkalai. Juga Kakak yang membutuhkan pendampingan, semua itu aku yang mengambil alih.
Kalau bukan aku, siapa lagi? Sementara Papa sudah harus kembali mencari nafkah. Rasa sedih dalam diriku sengaja ditahan oleh kesibukan rutinitas harian tanpa waktu kosong. Aku menyapu seluruh lantai serta halaman, mengepel, memasak atau membeli lauk di warung, membersihkan debu, mencuci, mengurus Kakak, dan juga mengurus Mama.
Namun aku senang melakukan itu semua. Karena itu alasanku untuk melanjutkan hidup. Demi Kakak, Mama, dan Papa. Sekolahku untuk sementara tertunda. Keluarga lebih penting untuk saat ini. Mungkin setelah Mama sudah bangkit dari kesedihannya, baru aku sekolah lagi.
Sedangkan tentang kegiatan menulisku juga tertunda. Pikiran dan imajinasiku seakan tertutup entah mengapa. Padahal aku ingin sekali menulis tentang Raina. Rasanya berat sekali.
Oh iya, aku belum menceritakan kondisi Kak Kaysa setelah kehilangan Raina kepadamu, kawan. Ia murung sepanjang waktu. Senyum dan tawanya hilang sama sekali.
Tawanya ketika mendengar ceritaku tentang buku karya Kak Pelangi ternyata adalah tawa terakhirnya. Kini yang keluar dari lisannya adalah, ‘Na … na…,’ berulang-ulang seperti itu. Dia sangat merindukan adiknya.