LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #19

Peran Orang Tua

Hari seleksi olimpiade tingkat sekolah telah tiba. Kulihat seluruh peserta berwajah amat tegang. Aku pun tegang, tetapi bukan karena takut gagal, melainkan takut lolos. Kalian sudah tahu kan alasannya?

Kertas-kertas soal dibagikan, dan ketika aku mulai membacanya satu per satu, rasanya familiar, mirip seperti soal-soal yang diberikan Bang Beni.

Kawan, soal-soal dari Bang Beni tidak bisa kuabaikan. Risih rasanya melihat tumpukan kertas yang teronggok begitu saja. Jadi, akhirnya aku kerjakan juga, meski asal. Aku tidak tahu benar atau tidaknya. Makanya sekarang aku merasa tidak asing dengan apa yang ada di hadapanku ini.

Kali ini pun aku benar-benar merasa tidak nyaman ketika jawabannya aku pilih secara acak dan asal. Aku tetap menghitungnya, lalu berharap semoga hitunganku salah. Oh iya, cabang lomba yang kuikuti adalah Matematika, tentu saja.

Bel sudah berbunyi, tandanya waktu habis. Aku sudah selesai mengerjakan sejak tiga puluh menit yang lalu. Mengenai pengumuman yang lolos seleksi akan diberitahu besok.

Alex menungguku di depan ruangan. Kenapa sih dia selalu mengikutiku?

“Sudah selesai? Bagaimana soalnya? Aku yakin kamu pasti lolos!” kata Alex.

“Kenapa kamu di sini?”

“Menunggumulah, apa lagi?”

“Kenapa? Kenapa kamu selalu mengikutiku sih?”

“Karena kamu cantik, hehe.”

Mendengar itu, aku senyum senyum sendiri. Ada-ada saja Alex ini. Cantik dari mana? Wajahku jauh dari kata cantik, lusuh.

Eh, tapi perhatianku mengarah pada rambutnya. Dia baru potong rambut, terlihat rapi sekali hari ini. Wajahnya jadi lebih segar. Ah, kenapa aku memikirkan itu? Beberapa kali aku menampar pipi sendiri.

“Ke kantin, yuk! Aku yang traktir,” ajak Alex.

Aku mengiyakan saja karena memang lapar. Lumayan, jajanan gratis.

Dua porsi spaghetti dan dua gelas es jeruk dipesan olehnya.

“Tahu, tidak, selama kamu tidak sekolah, Aku selalu ingat kamu lho.” Ia membuka percakapan.

“Hah, memangnya kenapa?”

“Aku tahu, kehilangan seseorang yang dicintai pasti berat sekali kan? Aku khawatir kamu pasti sangat sedih.”

“Kenapa kamu harus khawatir? Aku kan bukan siapa-siapa bagimu.”

Ia berhenti mengunyah sesaat, lalu perlahan memandangku.

“Bukan siapa-siapa ya? Hmm, iya sih. Ya sudah, aku duluan ya. Sudah kenyang nih.” Alex pergi meninggalkan makanannya yang masih tersisa banyak.

Dia kenapa? Apakah marah denganku? Tersinggung atau apa? Kurasa aku tidak mengucapkan kata kasar padanya, juga tidak menghinanya.

Ia baru makan sedikit saja, bahkan es jeruknya masih utuh. Jelas ada yang salah dengannya. Jangan-jangan, aku salah berucap? lalu aku harus apa?

***

Esok hari, aku mendapatkan sebuah amplop dari Pak Tris. Setelah kubuka, isinya membuatku terlonjak kaget.

‘Selamat kepada: Aluna Raidar. Berdasarkan hasil seleksi, Ananda terpilih untuk mewakili sekolah untuk mengikuti seleksi Olimpiade Sains di tingkat kecamatan.’

Lalu pada lembaran berikutnya terdapat hasil ujian kemarin dengan nilai yang tertera, seratus.

Gemetar seluruh badanku. Kok bisa? Aduh, bagaimana ini? Pak Tris masuk kelas dan mengumumkannya di depan kelas, membuat seluruh penghuninya bertepuk tangan dan menoleh padaku. Ah, aku membenci ini.

Bang Beni menjemputku siang ini. Ia sendirian. Aku diajak mengunjungi perusahaannya. Katanya, tidak perlu les untuk hari ini.

Lihat selengkapnya