Mentari tersenyum pagi ini. Seperti senyumnya Bang Beni dan Kak Maudy yang akan mengantarkanku seleksi olimpiade sains di kecamatan. Padahal aku tidak tersenyum sama sekali. Banyak hal yang aku benci sekarang.
Pertama, aku benci mewakili sekolah. Karena jika kalah, sekolah pasti kecewa. Kedua, aku benci diantar Bang Beni dan Kak Maudy. Aku akan gugup jika mereka menonton. Dan jika kalah, malunya setengah mati.
Ketiga, aku benci disuruh Kak Maudy memakai kunciran bando sekaligus jepit. Karena tadinya itu akan kuberikan untuk Raina, tetapi tidak sempat. Juga karena aku malu memakainya. Rambutku terlihat ramai dan berwarna-warni, seperti anak kecil.
Namun semua hal yang aku benci itu kusembunyikan rapat-rapat. Entah apa alasannya.
Lokasinya di sebuah sekolah negeri dekat kantor kecamatan. Pak Tris sudah berada di sana duluan, mengurus beberapa administrasi, juga mencari meja bertuliskan namaku.
Terdapat puluhan anak sekolah berusia tanggung yang diantar oleh orang tuanya. Seumur hidup aku belum pernah menjadi anak seperti anak-anak di sini. Tidak pernah diantar orang tua. Benar kata Bang Beni. Orang tuaku selalu sibuk, sehingga aku kekurangan perannya. Oh, aku mulai sedikit paham perkataan Bang Beni di taman malam itu tentang peran orang tua.
Jika mengingat itu, aku jadi termenung tiba-tiba. Rasanya seperti nyawa yang melayang dan meninggalkan raganya sendirian.
Bang Beni dan Kak Maudy sedang berlakon menjadi orang tuaku. Mereka mengusap bahu, mengelus kening, mengusap punggung, dan mengacak rambutku. .
Pak Tris mengantar hingga ke dalam kelas, menyemangati beberapa menit, lalu keluar. Sedangkan Bang Beni dan Kak Maudy terus memperhatikan dari jendela.
Aku ingin berharap untuk gagal, tapi takut mengecewakan. Tetapi jika nanti aku lolos, artinya aku harus ikut tahap selanjutnya. Dan jika di tahap selanjutnya gagal, akan lebih mengecewakan lagi. Lalu aku harus apa?
Lomba dimulai. Soal-soal kali ini lebih sulit daripada sebelumnya. Ada beberapa kata yang asing dan belum pernah dipelajari. Sesekali aku menengok ke jendela, Bang Beni dan Kak Maudy masih menonton. Dan setiap kali aku mengetahui itu, gemetarku langsung kambuh.
Bagaimana jika mereka melihatku lambat mengerjakan? Bagaimana jika mereka menganggapku tidak fokus? Bagaimana jika mereka melihatku gugup? Kira-kira bagaimana komentar mereka ketika aku keluar nanti? Ah, rasanya kepala ini ingin kulepas saja.
Tepat ketika bel tanda selesai berbunyi, aku telah selesai mengerjakan soal nomor terakhir. Ketika telah dikumpulkan, Bang Beni dan Kak Maudy bertepuk tangan dan mengacungkan jempol.
“Hebat!” Kak Maudy memuji.
“Terima kasih sudah berusaha ya, anakku.” Bang Benny menepuk-nepuk pelan punggungku.
Padahal pengumuman masih jauh nanti sore, tapi mereka sudah memuji. Rasanya belum pantas aku menerimanya. Terlalu berlebihan. Keduanya terlalu berlebihan.
“Berdoa saja, ya. Kita tunggu apapun hasilnya nanti.” Pak Tris menanggapi.
“Sambil menunggu, bagaimana kalau kita makan dulu?” Usul Bang Beni.
Kami berpindah tempat ke sebuah warung makan sederhana dekat sekolah.
“Oh iya, Pak, Aluna kalau di sekolah seperti apa? Dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik, kan?” Bang Beni berbicara sambil mengambil lauk.