“Aluna, menurutmu orang yang lahir dari keluarga kaya raya hidupnya bahagia atau tidak?” Tanya Kak Maudy.
“Pasti bahagia, Kak. Dia bisa membeli apapun yang ia mau. Kalau sakit bisa berobat di rumah sakit yang bagus. Dia juga tidak akan putus sekolah,” jawabku yakin.
“Tapi, tahukah kamu, Bang Beni kaya raya sejak kecil, tapi hidupnya tidak bahagia?”
“Hah? Kok bisa?”
“Karena dia kesepian. Orang tuanya selalu sibuk. Waktu kecil, Bang Beni tidak punya teman main di rumah selain pengasuhnya.”
“Tapi, kan, dia punya banyak uang? Kenapa tidak beli mainan saja yang banyak?”
“Mainan miliknya bahkan memiliki satu ruangan khusus. Dan ruangan itu penuh. Semuanya bisa dibeli dengan uang, Aluna. Kecuali kebahagiaan dari peran orang tua.”
“Maksudnya?”
“Peran orang tua itu sangat penting, Aluna. Jika tidak terpenuhi, akan mempengaruhi karakter anak di masa depan.”
“Oh iya, aku ingat. Bang Beni pernah berkata tentang peran orang tua. Tapi aku masih belum sepenuhnya mengerti. Maksudnya itu seperti apa ya, Kak?”
“Jadi sebetulnya orang tua itu harus selalu hadir dalam kehidupan anaknya. Misalnya ketika mengantar anak atau menjemput anak sekolah, menghadiri acara-acara penting anaknya, mendampinginya bermain, menghabiskan waktu bersama anak, mendengarkan ceritanya, dan masih banyak lagi.”
Aku berpikir sejenak. Aku tidak mendapatkan semua itu dari Papa dan Mama. Berarti aku kekurangan peran orang tua? Tapi kalau Kak Kaysa dan Raina, Mama selalu ada untuk mereka. Berarti mereka tidak kekurangan? Hanya aku saja? Kenapa? Kenapa hanya aku? Padahal kan aku juga anak dari Papa dan Mama.
Selama ini ternyata aku berjuang sendirian untuk hidup. Tidak seperti Kak Kaysa dan Raina yang selalu dibantu Mama dan dibiayai Papa.
Bahkan Papa tidak mau membiayai sekolahku setelah lulus dari Sekolah Dasar. Mengapa? Mengapa seperti itu? Wah, aku baru tersadar. Aku tidak pernah merasakan disuapi makanan oleh Mama, tidak pernah merasakan diantar sekolah oleh orang tua. Bahkan, acara perpisahan sekolah pun yang memeluku adalah Bundanya Irma, bukan Mama atau Papa.
Rasanya sakit sekali. Sepertinya aku tidak dibutuhkan. Mungkin karena aku bodoh, lemah, ceroboh, tidak berguna, dan selalu salah? Dan karena itu semua, Mama dan Papa tidak menganggapku anaknya? Jadi, untuk apa aku hidup kalau orang tuaku saja tidak menganggapku ada? Ah, kalau tahu seperti itu, lebih baik aku tidak usah hidup saja.
“Aluna, kok, bengong?” Kak Maudy menggoyangkan tubuhku.
“Eh, iya, Kak. Lalu kalau seorang anak yang kekurangan peran orang tua, ketika besar nanti akan seperti apa?”
“Kurang percaya diri, sering cemas, dan suka menyendiri. Itu yang dialami Bang Beni.”
“Tapi, Bang Beni tidak terlihat seperti itu? Dia sangat percaya diri, bahkan bisa memimpin perusahaan.”
“Kamu tidak tahu prosesnya, Aluna. Bang Beni seperti itu karena telah melewati proses yang sangat panjang. Sejak usia belasan, bahkan sampai saat ini, dia sedang berobat.”
“Berobat? Memang Bang Beni sakit apa?”
“Berobat ke poli jiwa atau psikiater untuk menyembuhkan luka masa lalunya.”
“Oh, jadi itu bisa diobati ya?”
“Ya, bisa, Aluna. Apa kamu merasa seperti Bang Beni, kurang peran orang tua?”
“Iya, Kak. Aku baru tersadar sekarang. Eh tapi kok Kakak tahu?”
“Bang Beni cerita. Katanya dia menangkap sinyal itu ketika kamu bilang bahwa kamu tidak pernah jalan-jalan bersama orang tua.”
“Oh begitu.”
“Pasti sakit, ya, ketika menyadari itu?”
“Iya, Kak. Sakit sekali.”
“Tidak apa-apa. Memang sakit, Aluna. Karena itu, kami berusaha supaya luka masa kecilmu itu tidak bertambah besar, sehingga harus berobat selama bertahun-tahun. Kami berusaha untuk menjadi orang tuamu ketika kamu di sini, oke?”
“Oke.”