TRIGER WARNING!!!
Hai, kawan! Sekarang aku sudah SMA. Ternyata waktu cepat berlalu. Sebetulnya banyak yang belum kuceritakan padamu, kawan. Aku akan menceritakannya satu per satu sebelum aku mengenalkan padamu tentang sekolah baruku ini.
Tentang Olimpiade Sains Nasional waktu itu, ketika pertama kalinya aku dipercaya mewakili sekolah. Oh iya, ternyata sejauh ini aku belum pernah memberitahumu, kawan, tentang nama sekolahku. SMP Mahir Berprestasi, sekolah unggulan mahal di Jakarta Pusat.
Kembali ke topik olimpiade itu, aku kalah urutan kedua tingkat nasional. Namun, aku tetap mendapat hadiah. Piala, medali perak, piagam, dan uang pembinaan yang cukup banyak. Hingga sekarang uang itu masih ada.
Selain itu, karena aku juga juara di tingkat kecamatan, kota, dan provinsi, aku dapat piala juga di masing-masingnya. Berarti aku telah mendapatkan empat buah piala untuk olimpiade ini. Meski hanya piala duplikat karena yang asli disimpan di sekolah.
Lalu di tahun kedua, aku ikut lagi di kompetisi yang sama, Olimpiade Sains Nasional, karena diselenggarakan setiap tahun. Kali kedua ini aku berhasil menyabet medali emas alias juara satu nasional. Pialaku semakin bertambah.
Namun sayangnya aku tidak bisa mengikuti tahap selanjutnya yaitu internasional. Karena aku gagal di Pelatnas. Pelatnas adalah program pembinaan intensif bertahap bagi para juara Olimpiade Sains Nasional untuk menyeleksi dan mempersiapkan siswa-siswa terbaik untuk mewakili Indonesia di ajang Olimpiade Sains tingkat Internasional. Dari puluhan peserta terbaik, disaring menjadi empat orang saja. Aku tidak termasuk di dalamnya.
Selain Olimpiade Sains Nasional yang diadakan oleh Puspresnas setiap tahun, aku meminta Bang Beni mendaftarkanku di berbagai olimpiade dan lomba matematika secara mandiri, tidak mewakili sekolah. Dan tahukah, kawan, seluruhnya aku menangkan. Iya, juara satu.
Piala yang ku dapatkan hingga kelas dua SMP adalah dua puluh. Medali emas sepuluh, medali perak satu, dan dua puluh piagam penghargaan.
Sampai-sampai Bang Beni membeli lemari pajangan untuk mereka. Piagam-piagam dibuatkan bingkai, ditata memenuhi dinding ruang tamu.
Lalu di tahun ketiga, Bang Beni melarangku mengikuti lomba apapun karena aku disuruh untuk fokus menghadapi ujian nasional. Oh iya, selain itu aku juga juara kelas berturut-turut dari kelas satu hingga lulus SMP.
Semua itu kulakukan demi orang tua angkatku ini. Mereka rela menghabiskan puluhan hingga ratusan juta, juga tenaga dan emosi, demi aku yang bukan anak kandungnya. Tidak mungkin kan kalau aku tidak memberikan apapun?
Selama SMP aku tidak mau mengalah untuk siapapun. Maksudnya, mengalah di bidang akademik. Tahukah, kawan, dahulu ketika masih di Sekolah Dasar, aku sebenarnya mampu juara satu.
Tetapi, kenapa aku tidak mendapatkannya? Karena aku mengalah demi Irma, sahabatku waktu itu. Ingatkah kalian, orang tua Irma senang dan bangga sekali dengan prestasi anaknya? Karena orang tuanya sangat baik denganku, aku harus membuatnya senang. Ku buat Irma berprestasi sebagai tanda terima kasihku pada keluarganya.
Aku selalu belajar bersamanya setiap hari, jadi aku bisa mengukur kemampuannya. Kemampuanku tidak boleh melebihi kemampuannya. Dengan itu, ia menang. Kalau orang tuaku, kan, mereka tidak pernah bangga denganku. Jadi, tidak masalah kalau aku tidak juara.
Oke, tentang olimpiade dan prestasi-prestasiku sudah selesai. Masa SMA ini, aku sudah bertekad untuk terus berprestasi. Nanti aku akan ceritakan juga padamu, kawan.
Kedua, tentang Mama dan Papa. Sudah lama aku tidak menghubungi mereka. Mereka juga tidak pernah menghubungi, hanya Bang Beni yang sesekali bertanya kabar. Selalu dijawab: ‘Baik.’ Oke, cukup mengetahui mereka baik-baik saja. Tidak perlu lain-lain.
Setelah menyadari bahwa peran mereka hampir tidak ada di hidupku, aku menjadi enggan berbicara. Meski aku rindu dengan Kakak.
Salah mereka, aku jadi tidak percaya diri. Salah mereka, kebutuhanku tidak tercukupi. Salah mereka, aku banyak takutnya. Salah mereka, aku jadi merebutkan orang lain.