LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #23

Lomba Menulis Cerpen

TRIGGER WARNING !!!

Bukan draft perjanjian kerjasama yang terkirim. Melainkan, foto para pegawai yang sedang makan siang bersama. Astaga! Pantas saja perusahaan dianggap tidak profesional. Aku bodoh, aku memang bodoh sekali. Bisa-bisanya merusak harga diri perusahaan. Bisa-bisanya membuat Bang Beni kehilangan klien. Ah, sial sekali.

“Maaf, Bang. Aku benar-benar minta maaf. Sekali lagi aku minta maaf,” rayuku.

“Kesalahanmu fatal, loh. Bahaya. Bagaimana kalau yang kamu kirim adalah data pribadi atau rahasia perusahaan?”

“Iya, Bang. Ini salahku. Aku benar-benar minta maaf.”

“Ini salahku juga sih memberikan tanggung jawab besar pada anak SMA.” Bang Beni menggerutu sendiri, menelungkupkan telapak tangan di keningnya.

“Maaf, Bang. Aku ceroboh.”

“Ya sudah. Lain kali, cek berkali-kali dulu sebelum dikirim.”

“Iya, Bang. Maaf.” Entah berapa kali kata maaf terucap di lisanku.

Ah, aku membuat kesalahan yang sangat besar. Merugikan perusahaan, mengecewakan Bang Beni. Pasti para pegawainya membenciku. Memang pantas. Aku memang pantas untuk dibenci. Mengapa ceroboh sekali? Ah, aku benci diriku sendiri! Andai waktu itu tidak ada orang yang menolongku di jalanan. Biarkan aku membusuk saja di sana. Toh, hidupnya hanya merepotkan orang lain saja.

Kejadian itu membuat pikiranku tak karuan sepanjang hari. Hari Sabtu dan Minggu les libur. Seharian full aku di kamar, kecuali waktunya makan. Bang Beni dan Kak Maudy sebisa mungkin kuhindari. Malu.

Aku ceroboh dan itu sangat merugikan Bang Beni beserta perusahaannya. Pasti Bang Beni menjadi marah padaku.

Hari Senin datang, pikiranku masih tidak bergerak. Andai saja waktu itu aku mengecek berkali-kali sebelum mengirim. Pasti tidak akan terjadi seperti itu.

Sepanjang perjalanan ke sekolah,, aku hanya bengong. Ah, isi kepala ini semrawut sekali. Seringkali aku terpaku, menopang dagu dengan tangan.

“Aluna, sedang apa di sini sendirian?” Alex mendekat.

“Tidak apa-apa.”

“Mau kutemani ke kantin?”

“Aku tidak ingin ke kantin.”

“Kalau begitu, biar ku temani di sini.”

“Tidak perlu, aku sedang ingin sendirian.”

“Bohong. Pasti kamu kesepian, kan? Aku di sini saja, menemani kamu.”

Aku berpindah tempat duduk, menjauh dari Alex.

“Kamu sedang ada masalah? Ada apa? Cerita saja kepadaku.” Alex ikut berpindah, mendekat lagi.

“Sudah kubilang, aku ingin sendirian!” Aku bangkit, melangkah cepat keluar kelas meninggalkan Alex sendirian.

Teras yang lengang itu sepertinya pas untukku menyendiri. Aku duduk cepat di atasnya. Kepala ini berisik sekali. Siapa pun, tolong jangan ikut campur.

Lihat selengkapnya