Waktuku sangat padat. Selain les yang kuikuti sejak SMP, ada tambahan les lagi. Akuntansi dasar, Microsoft Excel tingkat lanjutan, dan kelas kepemimpinan. Bang Beni bilang semua itu seharusnya dipelajari di perkuliahan. Namun, karena percaya dengan kemampuanku, ia meminta beberapa kenalannya untuk menjadi guruku sekarang. Jadi, dari hari Senin sampai Sabtu full waktuku untuk les.
Kecuali hari Jumat, jadwal berkunjung ke kantor Bang Beni. Lalu hari Minggu adalah momen untuk kumpul keluarga. Seharian aku harus bersama Bang Beni dan Kak Maudy. Baik itu di rumah saja atau terkadang jalan-jalan di luar. Kalau sedang di rumah, aku dilarang untuk masuk kamar.
Aku tidak punya waktu untuk menulis. Sudah lama buku itu usang berdebu. Lalu, kemarin ketika aku berpura-pura sakit, akhirnya aku punya kesempatan membuka buku itu lagi.
Semua kegiatan yang super sibuk ini membuat kepala selalu berdenyut setiap malam. Sudah penuh tapi tidak bisa kutuangkan di dalam tulisan. Sebetulnya aku membenci itu, tapi ini semua demi masa depanku.
Bang Beni sudah mempersiapkan semuanya. Tidak mungkin kan aku tolak? Bang Beni banyak sekali berkorban supaya aku mampu menjadi penerus perusahaannya. Ah, aku benci dengan frasa itu. Tapi cita-citaku dulu, kan, ingin berpendidikan tinggi agar mudah mencari pekerjaan dengan gaji besar, agar bisa membantu pengobatan Kakak dan Adik yang lebih baik. Adik sudah tidak ada, tinggal kakak.
Sekarang pekerjaan bergaji besar itu sudah dijanjikan oleh Bang Beni, juga bermacam bekalnya sudah difasilitasi. Akankah mampu aku menolaknya? Tetapi, itu, kan, dulu sebelum aku mengenal kegiatan yang namanya menulis, juga seseorang yang menginspirasiku untuk menjadi penulis.
Apakah penulis merupakan pekerjaan bergaji besar? Aku bingung sekali. Setelah aku hubungi Kak Pelangi, ternyata gaji penulis tidak sebesar gaji pemimpin perusahaan. Hanya 15 persen dari harga penjualan sebuah buku. Kalau tidak laku, ya tidak dapat apa-apa.
Sedangkan buku yang laku adalah buku yang bagus. Dan membuat buku yang bagus itu sangat sulit. Itu yang Kak Pelangi katakan. Mungkin mimpi ini akan kukubur saja. Tapi aku tidak bisa, benar-benar tidak bisa. Menulis membuat bahagia. Menulis itu menyelamatkanku dari berbagai pikiran-pikiran buruk yang ada di kepala. Aku sangat menyukainya lebih dari apapun.
Oh, tentang lomba itu, selama tiga hari ini aku belum menemukan idenya. Artinya batas waktunya tinggal dua hari. Sedangkan hari ini dan besok tidak ada waktu kosong sama sekali. Sepertinya tidak perlu aku ikut.
“Aluna, bagaimana lombanya? Ceritanya sudah selesai?” Alex menepuk punggungku.
“Idenya juga belum ada. Aku tidak jadi ikut saja.”
“Kenapa? kan masih ada waktu?”
“Tidak ada waktu. Hari ini dan besok jadwalku penuh.”
“Hmm, kalau begitu pulang sekolah nanti, ikut aku ya.” Ia berlalu meninggalkan pertanyaan.
Maksudnya, ikut kemana?
Sepulang sekolah, Alex sudah menunggu di depan pintu kelas. Kelas kami memang berbeda.