“Aluna, cepat masuk mobil!” Perintah Bang Beni.
Seluruh gigiku gemeretak. Bang Beni pasti marah. Ternyata di dalam mobil ada Kak Maudy. Ia menggeser posisi, mempersilakanku untuk duduk. Senyumnya terasa getir.
“Sabar, Yang, pasti ada alasannya.” Kak Maudy berbisik kepada Bang Beni, namun aku masih bisa mendengarnya.
Bang Beni menghela napas panjang. Hening sesaat.
“Aluna, kamu sedang apa di sana?” Suara Bang Beni berat seperti menahan amarah.
Aku tertunduk. Harus jawab apa? Haruskah aku jujur bahwa tadi sedang menulis? Bagaimana respon Bang Beni jika mengetahui itu? Apakah lebih marah lagi?
“Jawab, Aluna!” Lanjutnya.
“Maaf, Bang, hanya duduk-duduk.”
“Duduk-duduk? Kamu bolos les hanya untuk duduk-duduk?”
“Maaf, Bang.” Entah apa yang harus kukatakan selain maaf.
“Jawab jujur, Aluna. Kamu sama siapa tadi? Pacarmu kan? Alex?”
“Eh, bukan, Bang. Bukan pacar.”
“Lalu? jangan bohong! Kan Abang sudah bilang jangan pacaran.”
“Tapi dia memang bukan pacarku, Bang.”
“Aluna, jujur saja, tidak apa-apa kok.” Kak Maudy memecah suasana, merangkul pundakku.
Ia tersenyum getir lagi.
“Maaf, Kak, tapi aku tidak berbohong. Alex memang bukan pacarku.”
“Ya sudah, kalau begitu, bisa kamu jelaskan kenapa kamu berada di sana berjam-jam, hingga bolos les?” Pinta Kak Maudy.
Bang Beni diam saja.
“Aku ingin ikut lomba menulis cerpen. Batas waktunya dua hari lagi. Alex mengajakku ke sana untuk mencari inspirasi sekaligus kuselesaikan cerpennya tadi.” Aku harus jujur agar tidak dianggap berpacaran terus.
“Lomba menulis cerpen? Untuk apa? Kamu buang-buang waktu belajarmu untuk itu?”
“Maaf, Bang.”
“Aluna, kamu tahu, kita semua panik mencarimu kemana-mana. Abang menunggu di depan gerbang sampai semua penghuni sekolah sudah pulang, tapi kamu belum muncul juga. Bagus sedang cuti, jadi tidak bisa memantau. Satu hari saja lolos dari pantauan, kamu berani menghilang?”
“Maaf, Bang.”
Bang Beni benar-benar marah. Meskipun nada bicaranya tidak tinggi, ekspresinya datar, tapi aku tahu dia marah besar.
“Pasti si teman lelakimu itu yang membawa pengaruh buruk, kan? Dia yang mengajakmu bolos, kan? Besok Abang akan bicara padanya.”
“Jangan, Bang. Ini salahku, bukan salah dia,” rengekku.
“Sudah, diam saja kamu. Pokoknya jauhi dia, jangan hubungi dia lagi, jangan berteman dengannya.”
Malam hari Kak Maudy datang ke kamarku. Ia membawa sebuah laptop. Sepertinya ia ingin menemani sembari bekerja.
“Aluna, mana tulisanmu tadi? Sini, biar Kakak bantu mengetik.”
“Tidak perlu, Kak. Itu hanya akan buang-buang waktu. Kakak tidak usah repot. Lebih baik aku belajar saja.”
Ia menghela nafas.
“Aluna, kamu harus bisa menentukan arah hidupmu sendiri. Jangan mau terus-terusan dikendalikan oleh orang lain.”