Janji itu benar-benar kutepati. Aku tidak lagi mengikuti lomba menulis. Lalu, apa yang kulakukan untuk meningkatkan skill menulis? Membuat novel. Seperti Kak Pelangi dan J.K. Rowling. Entah bagus atau tidak, tidak usah perdulikan itu dulu. Yang terpenting adalah menyelesaikannya.
Namun kali ini, seperti ada yang kurang, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Alex tidak lagi mengganggu, merebut paksa buku tulis dan membaca ceritaku. Ia menghilang. Aku tahu penyebabnya adalah aku.
Beberapa hari yang lalu adalah hari ulang tahunku yang ke-17. Hari yang dahulu kutunggu-tunggu karena Mama sudah berjanji akan merayakannya. Janji itu sama sekali tidak ditepatinya. Bahkan ucapan lewat pesan di ponsel pun tidak ada. Kalau memang berniat merayakan, jarak bukan penghalang, kan?
Namun yang menepati janjinya adalah Alex. Masih ingatkah, kawan, ketika dia berjanji akan merayakan ulang tahunku yang ke-17? Ketika itu kami masih duduk di bangku SMP. Dia bahkan baru mengenalku beberapa hari.
***
Usai semua pelajaran selesai, Alex membawakan sebuah bolu yang ia buat sendiri dan sebuah buket bunga yang ia rangkai sendiri. Alex masuk kelasku sembari membawa bolu itu dengan kedua tangannya. Bolu berwarna merah muda dengan perpaduan krim putih mengelilingi. Terdapat tulisan ‘Happy Sweet Seventeen, My Dear Aluna.’ Tidak lupa dengan lilin berbentuk angka 17 di tengahnya.
Kehadirannya yang tiba-tiba sontak membuat seluruh pandangan mata mengarah padanya.
“Cie ….” Semua orang mengatakan itu padaku dan Alex.
Kedua pipiku berubah warna menjadi merah semerah tomat.
Alex memang menyebalkan! Mengapa harus di depan semua orang seperti ini sih? Sangat memalukan. Aku tidak tahu harus bersikap apa. Sungguh malu. Ingin menghilang saja rasanya.
Mereka satu persatu menyalami dan memberikan ucapan selamat padaku. Ah, mengapa ini harus terjadi?
“Selamat ulang tahun ke-17, ya, Aluna yang cantik. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu,” ucapnya.
Ku balas dengan mencubit pahanya diam-diam sambil berbisik.
“Kenapa harus seperti ini sih! Malu!” Alex hanya cengengesan.
Ia lalu memintaku untuk menunggu. Ia meninggalkanku sebentar dan kembali dengan menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Alex berlutut memperlihatkan buketnya lalu berkata,
“Aluna yang cantik, maukah kamu menjadi pacarku?”
Hah? Pacar? Apa aku tidak salah dengar? Benarkah apa yang dia katakan itu? Semua orang yang melihat membuka mulutnya lebar-lebar. Lalu teriakan “Cie…” bergema kembali.
Aku sangat ingin berubah menjadi debu saat itu juga. Aku menarik lengan Alex, membawanya ke ruangan kelas kosong.
“Maksudmu apa, Alex? Mengapa kau melakukan itu di depan semua orang? Aku malu, tahu!” Kumarahi ia.
“Aku kira kamu akan senang dengan kejutan dariku.”
“Tidak sama sekali. Kamu membuat malu saja!”
“Kalau begitu, maaf. Tapi kamu harus menjawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa?”
“Maukah kamu menjadi pacarku?”