LUKA ALUNA

Jofanina Fauziah
Chapter #27

Bakat atau Minat?

Kawan, tidak terasa, ini adalah tahun terakhir aku bersekolah. Tahun depan aku akan memasuki fase baru yaitu dunia perkuliahan.

Sampai saat ini aku terus mencari-cari informasi mengenai jurusan apa yang cocok untukku. Seperti sebelum-sebelumnya, aku masih tidak bisa memilih, harus mengutamakan bakat atau minat.

Iya, kalian sudah pasti tahu, kawan, bakatku adalah matematika dan minatku adalah menulis. Antara dua ini, mana yang harus aku pilih dan harus dikorbankan?

Kalau aku memilih jurusan yang berkaitan dengan Matematika, maka yang berkaitan dengan menulis harus aku korbankan. Atau sebaliknya?

Ah, tapi bagaimana bisa mengorbankan menulis yang mana sudah menjadi bagian dari hidupku? Namun, kemampuan menulisku masih tetap sama dengan yang dulu. Jauh dari kata bagus seperti J.K. Rowling. Bagaimana masa depanku nanti?

Kawan, jika kalian menyarankan untuk mengambil jurusan yang berkaitan dengan Matematika, lalu menulis dijadikan sebagai kegiatan sampingan, aku tidak mau. Karena aku ingin fokus di salah satunya saja.

Ternyata percaya pada diri sendiri itu sangat sulit. Aku masih tidak percaya sepenuhnya pada kemampuan menulisku. Lalu, aku menemukan artikel mengenai jurusan sastra Indonesia.

Setelah aku cari tahu, jurusan ini cocok dengan seseorang yang suka menulis karena akan mempelajari tentang sastra dan ilmu-ilmu kebahasaan. Yang mana akan meningkatkan skill menulisnya.

Sepertinya menarik kalau aku kuliah jurusan Sastra Indonesia, lalu kemampuan menulisku meningkat, lalu menghasilkan tulisan berkualitas, pasti bukuku laku keras, pasti aku akan kaya raya. Kalau begitu, aku ingin kuliah jurusan Sastra Indonesia saja.

Pulang sekolah nanti, Bang Beni dan Kak Maudy yang akan menjemput. Aku akan bicara tentang ini pada mereka.

“Bang, aku ingin bicara, boleh?”

Kini aku semakin berani untuk membuka pembicaraan. Rasa takut akan respon lawan bicara sudah berkurang. Apapun responnya, tidak masalah, pikirku. Belum tentu buruk juga, kan? Lagipula, Bang Beni tidak akan marah jika aku tidak berbuat salah.

“Ada apa, Aluna? Jelas boleh, dong.”

“Tentang jurusan kuliah nanti.”

“Kamu sudah menentukan? Apa pilihanmu?”

“Sastra Indonesia.”

Lihat selengkapnya