LUKA BARA

Muhamad Irfan
Chapter #1

Bab 1 - Menara Gading Yang Retak

Bara Agni berdiri di ujung meja panjang dari kayu mahoni, telapak tangannya sedikit basah menempel pada tablet presentasi. Di seberangnya, Pak Edward duduk bersandar dengan satu tangan menopang dagu.

“Baik,” kata Bara. Suaranya terdengar tenang. “Desain perumahan sosial ini kami rancang untuk kawasan bantaran kali Ciliwung, dengan pendekatan human-centered architecture dan prinsip keberlanjutan.”

Ia menyentuh layar memunculkan Gambar tiga dimensi di layar besar: deretan rumah berwarna hangat—biru muda, hijau zaitun, krem tanah yang tersusun rapi.

“Setiap unit memiliki lebar sepuluh meter,” lanjut Bara sambil menunjuk denah. “Jarak antar rumah sekitar dua belas meter untuk memastikan sirkulasi udara alami dan pencahayaan maksimal. Ini penting, Pak, terutama untuk wilayah dengan kepadatan tinggi dan risiko kelembapan.”

Pak Edward mengangkat alis.

“Kami juga merancang ruang terbuka hijau di antara blok,” Bara meneruskan. “Bukan sekadar taman kosmetik, tapi area resapan air dan ruang komunal. Warga bisa berinteraksi, anak-anak punya tempat bermain, dan yang paling penting..”

“Harganya terjangkau?” potong Pak Edward datar.

Bara terdiam sepersekian detik. “Efisien,” jawabnya. “Bukan murah dalam arti mengorbankan kualitas hidup khalayak banayk.”

Ia menekan layar lagi. Diagram material muncul. “Kami menggunakan material lokal dengan jejak karbon rendah. Atap dirancang untuk panel surya di tahap kedua, dan sistem pengelolaan limbah terintegrasi agar tidak mencemari sungai.”

Pak Edward menghela napas pelan, lalu bersandar lebih dalam ke kursinya.

“Bara,” katanya. “Kau tahu proyek ini milik siapa?”

“Investor swasta,” jawab Bara cepat. “Tapi lahannya”

“Milik pemerintah,” sela Pak Edward. “Yang berarti fleksibel. Bisa dinegosiasikan.”

“Dengan menggusur warga yang sudah tinggal di sana puluhan tahun?”

Pak Edward tersenyum. “Relokasi,” katanya. “Kata yang lebih ramah.”

Suasana ruang rapat berubah.

“Kau terlalu emosional untuk seorang arsitek,” ujar Pak Edward. “Kita bicara angka, Bara. Apartemen mewah di lokasi itu akan menghasilkan sepuluh kali lipat dari… ini.” Ia menunjuk layar dengan ujung pulpennya.

“Ini rumah,” kata Bara, suaranya meninggi sedikit. “Bukan komoditas yang mempertimbangkan hal seperti itu. Sepuluh meter itu bukan angka asal tapi Itu kehidupan mereka.”

Pak Edward tertawa pendek. “Kau pikir klien peduli warna dinding berbeda? Atau jarak dua belas meter antar rumah? Mereka peduli view sungai dari lantai dua puluh dan parkiran bawah tanah.”

Bara melangkah setengah langkah ke depan, lupa bahwa ia sedang berbicara dengan atasannya. “Dan kita peduli apa, Pak? Kita ini firma arsitek atau pabrik mimpi palsu?”

Senyum Pak Edward lenyap. Ia meraih berkas di depannya, dengan nama Bara tertera di sampul dan membalik-baliknya cepat mencari kesalahan yang bisa dijadikan sebagai senjata.

“Kau bicara tentang arsitektur untuk manusia,” katanya, lalu berhenti di satu halaman. “Manusia yang mana? Yang punya uang atau yang tidak?”

“Semuanya,” jawab Bara tanpa ragu. “Justru yang tidak punya uang sering kali disingkirkan tanpa dipedulikan.”

Pak Edward menutup berkas itu dengan keras.“Idealisme seperti ini tidak membayar gaji karyawan kita.”

“Keserakahan juga tidak membangun kota yang layak,” Bara membalas. “Kita sudah lihat apa yang terjadi ketika semua dipaksa vertikal, eksklusif, tertutup. Kota menjadi dingin dan Terasing.”

“Kota tidak butuh perasaan,” kata Pak Edward dingin. “Kota hanya butuh investasi.”

Hujan di luar semakin deras, seolah menegaskan pertengkaran itu. Bara menatap layar, lalu kembali ke Pak Edward.

Lihat selengkapnya