Bara melipat satu per satu buku sketsanya lalu menyusunnya ke dalam kardus cokelat.
Cahaya Sore masuk melewati celah jendela. Bara duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dinding. Kardus pertamanya sudah terisi penuh. Ia menutupnya, lalu membuka kardus kedua.
“Begini rupanya,” gumamnya. “Akhirnya tetap kembali ke kotak.”
Ia meraih satu buku sketsa yang sampulnya abu-abu pudar. Halaman-halamannya penuh coretan dengan garis-garis abstrak dan catatan kecil di pinggirnya. Buku itu menemani hari-hari awalnya bekerja di firma. Saat ia masih percaya bahwa idealisme bisa dinegosiasikan tanpa dikorbankan. Bara menyentuh halaman pertama, lalu menutupnya lagi.
Tangannya berhenti ketika menemukan sebuah buku lain.
Bara cukup mengenalnya dengan baik. Buku hijau itu ia beli dari toko alat tulis dekat kantor disaat minggu pertama ia diterima bekerja.
“Jangan hilang,” katanya dulu pada buku itu, setengah bercanda.
Bara membuka halaman tengah. Sketsa perumahan pertama yang ia kerjakan di firma itu ada di sana. Coretannya masih rapi, penuh semangat. Ada catatan kecil di bawah gambar: arsitektur harus berani membela yang diam.
Ia menutup buku hijau itu perlahan. “Maaf,” katanya lirih.
Tangannya gemetar saat meletakkannya ke dalam kardus yang sama. Setelah itu, Bara diam cukup lama. Ia tidak langsung bangkit. Pikirannya berjalan ke arah yang tidak ia undang.
Suara ayahnya muncul begitu saja cukup jernih sehingga dirinya merasakan kenyataan yang hadir saat itu.
***
“Apa ini, Yah?” tanya Bara kecil sambil memegang pensil warna.
Ayahnya tersenyum, duduk bersila di lantai ruang keluarga. “Itu rumah, Bar. Kamu lagi gambar rumah?”
Bara mengangguk cepat. “Iya. Tapi kok rumahnya kecil?”
“Tidak apa-apa kecil,” jawab ayahnya. “Yang penting penghuninya bahagia.”
Ibu yang duduk di samping mereka ikut tersenyum. “Jangan lupa juga jendelanya. Supaya cahaya masuk.”
Bara menambahkan jendela besar di gambarnya. “Kalau jendelanya banyak, rumahnya capek nggak, Bu?”
Ibu tertawa pelan. “Rumah tidak capek. Orang di dalamnya yang harus dijaga supaya tidak capek.”
Ayahnya mengangguk setuju. “Makanya, kalau kamu besar nanti dan bikin rumah, bikinlah rumah yang bikin orang betah.”
“Kenapa?” Bara kecil mendongak.
“Karena rumah itu bukan hanya tembok,” jawab ayahnya sambil mengusap kepala Bara. “Rumah itu tempat manusia merasa dianggap.”
Bara mengernyit. “Dianggap gimana?”
“Didengar,” kata ayahnya. “Dilihat. Tidak disingkirkan.”