Di dekat pintu masuk, dua orang pria hampir bertabrakan.
“Mas, lihat jalan dong!”
“Ya kamu juga, jangan mendadak berhenti!”
Mereka saling melirik, lalu kembali melangkah karena urusan mereka masing-masing.
Di sisi kanan, seorang ibu menahan koper besar sambil menggandeng anaknya.
“Pegang yang kuat, jangan lepas,” ucapnya setengah berteriak.
“Iya, Bu,” jawab si anak.
Langkah Bara melambat. Ia memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya. Mereka datang dengan tujuan yang berbeda, namun membawa beban yang serupa.
Dari pengeras suara, pengumuman terdengar.
“Perhatian kepada seluruh penumpang Kereta Api Senja Utama tujuan Surabaya Pasarturi, dipersilakan untuk segera menuju peron keberangkatan.”
Stasiun ini baginya bukan sekadar tempat transit. Ini adalah simbol dari dunia yang selama ini ia sebut neraka, tanpa pernah benar-benar menjelaskannya.
Neraka tidak selalu tentang api dan teriakan. Kadang ia hadir dalam bentuk antrean panjang yang kacau, tubuh-tubuh yang saling mendorong, dan wajah-wajah yang kehilangan kesabaran. Bara melihat sekelompok penumpang berdesakan di dekat eskalator.
“Mas, duluan saya. Kereta saya sebentar lagi!”
“Saya juga, Mbak. Sama-sama buru-buru.”
Ia ingat betul bagaimana rasanya berada di posisi itu.
Ingatan itu menyeretnya kembali ke satu pagi di Jakarta, beberapa tahun lalu. Pagi yang dimulai dengan alarm yang terlambat berbunyi. Bara berlari keluar dari kosannya, ia berlari dengan sekuat tenaga sehingga tas kerja terguncang di punggung.
“Permisi… permisi,” ucapnya berulang kali saat menyelip di antara penumpang lain.
Saat akhirnya masuk ke gerbong, pintu hampir menutup. Ia berdiri terjepit di antara dua orang asing, satu tangan memegang pegangan, satu tangan menahan tas agar tidak jatuh. Kemudian kereta melaju, dan napasnya baru kembali normal beberapa menit kemudian.
“Mas baru ya?” Seorang pria di sampingnya bertanya saat itu.
Bara mengangguk. “Iya.”
“Biasakan. Di sini yang lambat cuma satu, ketinggalan semua.”
Bara teringat ruang kantor di Jakarta, dengan lampu putih yang menyala sejak pagi hingga malam. Meja-meja berjajar rapi, namun di balik kerapian itu tersimpan tekanan yang tak terlihat.
“Laporan ini kenapa belum selesai?” suara seorang bos.
“Masih ada data yang”
“Saya tidak peduli alasannya. Saya butuh selesai hari ini.”