LUKA BARA

Muhamad Irfan
Chapter #4

Bab 4 - Aroma Tanah Basah

“Anda telah sampai di Stasiun Surabaya Pasarturi. Terima kasih telah menggunakan layanan kami. Periksa kembali barang bawaan Anda dan pastikan tidak ada yang tertinggal.”

Bara berdiri, membuka rak atas, menarik ranselnya dengan dua tangan. lalu menurunkannya.

Ia menoleh ke kursi sejenak, memastikan tidak ada benda miliknya yang tertinggal.

Lalu ia melangkah menuju pintu keluar

“Pelan, Mas,” Suara seorang ibu terdengar di belakang.

“Iya, Bu, antre,” Jawab seseorang.

Di tangga, seorang pria muda mengeluh.

“Capek juga kalau sampai subuh begini.”

“Yang penting sampai,” Sahut temannya.

Di luar stasiun, suasana masih lengang, kendaraan melintas sesekali.

Ia berdiri sebentar, menyesuaikan arah, lalu mulai berjalan meninggalkan bangunan stasiun.

Kampung Cemara RT 3 RW 07.

Dua kilometer.

Ia melewati gang sempit, lampu jalan yang redup.

Beberapa ratus meter dari stasiun, sebuah gapura berdiri.

Tulisan “Selamat Datang di Desa Kabut”.

Ia kembali menjadi anak kecil berusia empat tahun.

Tangannya kecilnya yang saat itu menggenggam jari ayahnya yang besar dan hangat.

“Yah, dingin banget,” ucap Bara kecil sambil mendekat.

“Iya, pagi begini memang dingin,” Jawab ayahnya sambil tersenyum.

Mereka berjalan menuju sawah, langkah ayahnya santai, langkah Bara sedikit tertatih.

Bara menunjuk tanaman kecil di pinggir jalan setapak.

“Itu daun apa, Yah?”

Ayahnya berhenti, jongkok sebentar, lalu menunjuk bunga kecil berbulu putih.

“Itu bunga dandelion, Nak. Coba ditiup.”

Bara mendekat lalu meniupnya, ia tertawa saat bijinya beterbangan.

“Wah, terbang semua,” Katanya dengan mata berbinar.

“Iya, cantik, kan,” Sahut ayahnya.

“Itu bunga paling indah,” Ucap Bara polos.

“Kayak keluarga kita.”

Ayahnya tidak menjawab, hanya mengusap kepala Bara dengan senyum.

Ingatan itu mengalir seiring langkah Bara di masa kini.

Jalan yang sama, arah yang sama, hanya waktu yang berubah.

Ia melewati sawah yang kini lebih sepi, pematang yang masih setia membentang.

Dalam ingatan, suara ayahnya kembali terdengar.

“Nanti kalau gede, jangan lupa pulang, ya.”

“Iya, Yah,” Jawab Bara kecil tanpa benar-benar mengerti.

***

Langkah Bara berhenti tepat di depan rumah panggung.

“Ibu,” panggilnya.

Langkah kaki terdengar dari dalam. Lalu, Ibunya muncul dari balik tirai, rambutnya terikat sederhana, wajahnya terkejut sesaat sebelum berubah hangat. Matanya menelusuri wajah Bara, seolah memastikan anaknya benar-benar ada di depan mata.

“Bara?” suaranya bergetar halus. “Kamu pulang?”

Bara mengangguk.

“Iya, Bu.”

Ibunya mendekat lalu memeluknya tanpa banyak kata. Pelukan itu hangat, erat, dan jujur. Ia menutup mata sebentar, membiarkan kehangatan itu meresap.

“Kamu sampai jam berapa?” Tanya ibunya setelah melepaskan pelukan.

“Subuh lewat sedikit.”

“Capek pasti. Masuk, Nak. Istirahatlah dulu.”

Ibunya mengambil ransel dari punggungnya, meletakkannya di kursi dekat jendela.

“Kamu sudah lapar, Nak?”

“tidak terlalu, Bu.”

Ibunya mengangguk. “Ibu buatkan teh hangat dulu. Kamu mandi, ganti baju. Biar badanmu enakan.”

Ibunya kembali dengan dua gelas teh.

“Minum dulu.”

Bara menerima gelas itu.

“Jakarta gimana?” Tanya ibunya, duduk di seberang.

Bara menunduk sebentar. “Aku dipecat, Bu.”

Ibunya tidak langsung bicara. Wajahnya diam

“kenapa, Nak?”

“Perusahaan ngurangin orang. Aku kena imbasnya.”

Sebuah kebohongan yang ia rancang.

Ibunya mengangguk. Tidak ada nada menyalahkan.

“Makanya kamu pulang?”

“Iya.”

Lihat selengkapnya