Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela. Bara Agni masih duduk di kursi panjang di dekat meja makan, tangannya memeluk cangkir kopi yang masih mengepul. Ibunya berdiri tak jauh darinya, mengaduk gula di cangkir lain.
“Minum dulu kopinya, mumpung masih hangat,” ucap sang ibu sambil mendorong cangkir itu lebih dekat.
Bara mengangguk, menyesap sedikit, lalu menghela napas panjang.
“Nanti siang aku mau ke makam Ayah Bu,” kata Bara.
Mendengar itu Ibunya berhenti mengaduk. Tangannya menggenggam sendok, irama matanya turun sebentar lalu bertanya pada bara. “Ibu ikut, ya nak?”
Bara menggeleng pelan. “Tidak usah. Ibu istirahat saja di rumah.”
Ibunya tersenyum. “Maafkan Ibu ya nak. Badan Ibu sedang kurang enak hari ini.”
“Tidak apa Bu,” jawab Bara. “Aku sendiri saja.”
Ibunya lalu mendekat dan menepuk bahu Bara.
“Hati-hati ya nak,”. “titipkan salam pada ayahmu.”
Kata yang ambigu karena salam biasanya disampaikan pada orang yang masih hidup. Tapi bara mengerti dan memilih untuk mengangguk agar ibunya merasa lega.
Kini waktu Menjelang siang, Bara berjalan menuju pemakaman desa melewati jalan yang begitu panjang.
Ia sangat mengingat ayahnya. Makam ayahnya berada di bagian timur, dekat pohon kamboja. Setelah berjalan mendekat dan sampai tepat di makam ayahnya kemudian Bara berjongkok di depan nisan yang lain, tangannya meraih rumput liar yang tumbuh di sekeliling batu nisan.
Lalu kemudian Bara membersihkannya satu per satu dengan perlahan dengan memegang barang bawahnya untuk mencabut.
“Maaf, Ayah,” bisik Bara dalam hati, matanya tertuju pada nama yang terukir di batu. “Aku lama tidak pulang hingga suasana seperti ini.”
Ia merapikan tanah di sekitar nisan, menepuk-nepuknya lalu membuat permukaan itu kembali rata. “Aku datang terlambat,” katanya dalam hati. “Tanah itu sudah ditandai orang lain.”
Ingatan itu kembali muncul
“Aku sempat menariknya dengan sekuat tenaga,” lanjutnya dengan suara batin yang bergetar. “Tanganku berdarah karena patoknya begitu keras. Rasanya aku sungguh tidak sanggup untuk melewati semua ini.”
Bara menunduk, memandang tanah di hadapannya, matanya kabur sesaat karena genangan air di matanya.
“Aku juga lupa,” bisiknya dalam hati, “Aku lupa membuka surat dari Pak Ruslan hingga 2 tahun lamanya.”