LUKA BARA

Muhamad Irfan
Chapter #6

Bab 6 - Danau dan Kesalahpahaman

Bara Agni menurunkan tas kanvasnya dari bahu lalu meletakkannya di ujung dermaga kayu. Ia duduk, menggeser posisi agar kakinya tidak menyentuh air, lalu membuka resleting tas sambil mengeluarkan satu per satu peralatan itu. Buku sketsa diletakkan paling dekat, palet cat menyusul, kemudian beberapa tabung kecil yang ia tekan dengan hati-hati agar isinya keluar secukupnya. Lalu Ia menuangkan warna-warna itu.

Bara mengusap bulu kuas dengan ibu jari, memastikan elastisitasnya masih baik. Ia mencondongkan badan, membuka halaman baru pada buku sketsa, lalu menarik garis pertama dengan tenang.

Danau itu ia mulai dari garis permukaan, lalu membiarkan kuas bergerak mengikuti ingatan yang masih melekat di kepalanya. Tangannya bekerja tanpa banyak jeda, sesekali berhenti hanya untuk mencampur warna di palet. Ia menambahkan air ke cat, mengaduknya perlahan, lalu mengaplikasikannya ke kertas dengan tekanan yang berubah-ubah mengikuti kebutuhan.

Bara berdiri, melangkah beberapa langkah ke samping dermaga, mendekati semak-semak rendah yang tumbuh rapat. Ia ingin sudut pandang lain. Buku sketsa ia jepit di bawah lengan, palet di tangan kiri, kuas di kanan. Dari sana, ia kembali menorehkan garis, memindahkan komposisi, menambahkan detail yang sebelumnya terlewat.

Setelah beberapa menit, Bara kembali ke kursi kayu yang tadi ia duduki.

Saat ia mulai mengerjakan bayangan yang memantul di permukaan danau, pandangannya terangkat tanpa sengaja. Di kejauhan, ada siluet yang bergerak. Awalnya hanya bentuk samar, seperti garis yang melintas di antara warna-warna lain. Bara menurunkan kuasnya sedikit, sedangkan matanya mengikuti gerakan itu. Siluet tersebut berhenti, lalu bergerak dengan lebih jelas.

Perlahan, bentuk itu berubah menjadi sosok manusia

Ia kembali ke kertasnya, mencoba melanjutkan sketsa, namun garis yang ia buat kehilangan fokus. Pandangannya kembali teralihkan secara tak sengaja. Melihat sosok itu kini lebih dekat, berdiri beberapa meter dari tepi danau, dikelilingi anak-anak desa.

gadis itu memegang kameran ditangannya. Ia tidak langsung memotret tapi berbicara lebih dulu dan Anak-anak itu menjawab dengan antusias, beberapa menunjuk ke arah danau. “Ada yang sering lihat matahari turun di sini?” suara gadis itu terdengar samar.

“Iya, Kak,” jawab seorang anak. “Kalau sore sering.”

“Kalau paling bagus jam berapa?” gadis itu bertanya lagi.

“Pas airnya diam,” sahut anak lain cepat. “Kalau anginnya kecil.”

Gadis itu mengangguk, tersenyum, lalu menurunkan kameranya. “Kalian pintar ya,” katanya.

Anak-anak itu tertawa. Salah satu dari mereka mendekat, menunjuk kamera. “Itu buat apa, Kak?”

“Buat nyimpen cerita,” jawab gadis itu. “Biar tidak hilang.”

Bara memegang kuasnya lebih erat. Ia tidak menyadari sejak kapan perhatiannya teralihkan. Pemandangan itu membuat dirinya semakin tidak fokus dan hampir saja paletnya terjatuh tapi refleks bara memegangnya. Sepertinya dirinya pernah duduk berhadapan tapi entah karena itu sudah sangat lama.

Gadis itu berjongkok, menyamakan tinggi badan dengan anak-anak lalu menunjukkan layar kamera, memperlihatkan hasil foto yang baru saja ia ambil. Anak-anak itu berebut melihat dan saat itu juga mereka berseru kagum.

“Bagus, Kak,” kata seorang anak sambil menunjuk layar.

“Coba berdiri di situ, nanti Kakak ambil lagi.”

Bara mengalihkan pandangannya sebentar, kembali ke buku sketsa. Ia mencoba memaksa dirinya fokus, menambahkan garis pada bayangan yang tadi belum sempat ia goreskan. Namun matanya terus bergerak mencuri pandang ke arah danau, ke arah gadis itu yang kini berdiri mengatur posisi anak-anak dengan sabar.

Gadis itu kembali berbicara. “Nanti kalau kalian sudah besar, mau jadi apa?”

“Nelayan,” jawab seorang anak laki-laki.

“Guru,” sahut yang lain.

“Fotografer,” kata seorang anak kecil sambil tertawa.

Lihat selengkapnya