Di depan warung itu, seseorang berdiri dengan punggung sedikit membungkuk, dengan rambutnya tersisir rapi. Bara sempat menurunkan pandangan, hendak langsung masuk tanpa menyapa. Namun suara itu lebih dulu memanggil namanya.
“Bara?”
Ia kemudian menghentikan Langkahnya. Ia menoleh, menatap wajah yang asing tapi familiar beberapa detik.
“Loh Dion?” suaranya keluar tak yakin.
Orang itu tersenyum, lalu tertawa. “Astaga. Aku kira salah lihat. Itu kamu beneran?”
Bara mengangguk. “Kamu… banyak berubah ya rupanya.”
Dion mendekat, menepuk bahu Bara agak keras. “Kamu juga. Tambah kurus. Ke mana aja, Bar?”
Bara mengangkat bahu, sambil senyum. “Kerja buat bertahan hidup. Kamu sendiri gimana?”
“Ya… begitulah.” Matanya bergerak cepat, menoleh ke dalam warung. “Kopi masih sama, ya?”
Tanpa sadar, Bara ikut melangkah masuk. Awalnya ia ingin langsung menyebutkan bumbu yang hendak dibeli, lalu pergi. Namun ia terpaksa ikut ketika Dion menarik kursi dan duduk begitu saja. Ia juga tak enak karena ia baru bertemu setelah sekian lama.
Bu Darmi muncul dari balik meja, mengelap tangan dengan lap lusuh. “Lho, Bara. Jarang kelihatan kamu sekarang.”
“Iya, Bu,” jawab Bara singkat.
“Temannya?” Bu Darmi melirik Dion.
“Oh ini? Teman lama,” Dion menyahut lebih dulu. “Saya numpang duduk, Bu.”
“Mau pesan minum apa?”
Dion menoleh ke Bara, lalu kembali ke Bu Darmi. “Air putih saja. Sama gorengan kalau ada.”
Bara baru membuka mulut setelah itu. “Kopi, Bu.”
Bu Darmi mengangguk, lalu pergi menyiapkan pesanan.
“Kamu tinggal di sini?” tanya Bara.
“Belakangan ini sering pulang-pergi,” jawab Dion. “Biasa banyak urusan.”
Bara mengangguk.
“Dulu kamu inget nggak,” kata Dion, “kita sering nongkrong di sini habis pulang sekolah.”
“Inget.”
“Kamu selalu pesan kopi pahit, padahal masih bocah bau kencur.”
Bara tersenyum. “Ngga apa-apa aku ingin kelihatan dewasa.”
“Ternyata kamu benar-benar pergi jauh meninggalkan desa ini,” Dion menatapnya. “Sementara aku muter di sekitar sini.”
Bara memalingkan wajah sebentar. “Setiap orang punya jalannya sendiri.”
“Iya.” Dion mengangguk cepat. “Kamu kelihatannya berhasil.”
Kata itu membuat Bara diam. “Berhasil itu relatif.”
Bu Darmi datang membawa gelas kopi dan air putih. Gorengannya diletakkan di tengah. Dion langsung mengambil satu, meniupnya sebentar, lalu menggigit.
“Kamu masih kerja di tempat lama?” Tanya Dion dengan mulut setengah penuh.
“Sudah tidak.”
“Oh?” Dion mengangkat alis. “Kukira kamu betah di kantor-kantor besar itu.”
Bara mengaduk kopinya perlahan. “Ada hal yang tidak bisa aku lanjutkan disana.”