Bara melangkah lalu Batuk terdengar cukup keras “uhuk-uhuk.” membuat langkah Bara melambat.
Ia menoleh ke arah rumah Pak Ruslan. Tapi pintu kayunya tertutup rapat. Bara sempat berhenti dan berdiri diam beberapa detik, pikirannya beradu antara meneruskan langkah atau berbelok.
“Pak Ruslan?” Bara mendekat, mengetuk pintu dengan ujung jari. “Ini Bara.”
Batuk itu kembali terdengar, membuat dada Bara ikut mengencang. Ia mengetuk lebih keras. “Pak?”
Akhirnya ia memutuskan untuk memaksa mendorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci.
Di dalam Pak Ruslan sedang terbaring, tubuhnya tampak begitu lemah terbaring. Selimut terlipat di pinggang. Tangannya mencengkeram kain sarung, dan di telapak itu terlihat noda merah.
“Pak…” suara Bara tertahan.
Pak Ruslan batuk lagi. Tubuhnya terguncang, lalu terdiam, Bara melangkah cepat, berlutut di samping ranjang.
“Pak Ruslan, dengerin saya,” Bara menunduk agar suaranya lebih dekat. “Saya ambil mobil dulu. Kita ke puskesmas.”
Pak Ruslan berusaha bicara, namun yang keluar hanya hembusan napas. Kepalanya bergerak perlahan berusaha mengangguk disaat tubuhnya lemah.
“Bapak tunggu di sini,” Bara melanjutkan. “Jangan bergerak. Saya akan kembali secepat mungkin.”
Ia berdiri, berlari membuat dirinya terengah-engah
Begitu pintu rumah dibuka, ibunya menoleh dari dapur.
“Kenapa, Bar?” Ibunya mendekat. “Kok pucat begitu?”
“Bu,” Bara bicara cepat dengan napas yang belum teratur. “Pak Ruslan batuk parah. Ada darah ditangannya. Aku mau bawa ke puskesmas.”
Tangan ibunya refleks menutup mulut. “Ya Tuhan. Kamu hati-hati nak. Ibu hanya bisa mendoakan.”
Bara sudah berbalik sebelum ibunya selesai berbicara dan buru-buru berlari ke garasi. Ia kembali ke rumah Pak Ruslan dan memarkir tepat di depan. Pak Yanto kebetulan lewat, membawa cangkul di pundak.
“Pak Yanto!” Bara memanggil berteriak.
Pak Yanto menoleh. “Ada apa, Bar?”
“Tolong saya, Pak,” Bara mendekat. “Pak Ruslan terbaring. Kita angkat ke mobil. Saya mau megantarnya ke puskesmas.”
Pak Yanto tidak banyak bicara. Ia buru-buru meletakkan cangkul dan berlari masuk. Mengangkat tubuh tua itu tidak mudah. Pak Ruslan tidak bisa membantu karena tubuhnya lemas, membuat pak yanto seperti mengangkat beban yang berlipat-lipat.
“Pelan-pelan,” Pak Yanto mengingatkan.
Bara mengatur posisi walaupun lengannya sempat gemetar menahan berat. “Tahan sedikit, Pak. Kita keluar.”
Hingga akhirnya Mereka berhasil membawa Pak Ruslan ke luar, menurunkannya ke jok belakang. Pak Ruslan batuk lagi, noda merah kembali terlihat di bibirnya. Bara menutup pintu mobil dengan cepat “BRAk!!”, lalu berlari ke kursi pengemudi.
Begitu sampai, Bara langsung turun. “Mbak!” ia memanggil ke meja registrasi. “Pasien batuk darah. Kondisinya parah.”