Blurb
Nama Al Habsyi adalah kehormatan. Tapi bagi Umar Al Habsyi, itu adalah luka yang terus menganga.
Sebagai anak dari Abdul Rahman Al Habsyi, dan cucu dari Abdullah Al Habsyi yang disegani hingga ke Arab, Umar seharusnya hidup dalam kebanggaan. Namun kenyataannya, ia tumbuh di tengah ketidakadilan, kasih sayang yang dipilih-pilih, perhatian yang tak pernah utuh, dan cerita pahit sang Ayah yang mempengaruhi hidupnya dan keluarganya.
Hari demi hari, Umar belajar bahwa rumah tidak selalu berarti tempat untuk pulang. Hingga akhirnya, pertengkaran besar memecah semuanya. . . dan Umar dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Semua karena kepahitan sang ayah Abdul Rahman yang hidup keras dari kecil bahkan di tinggalkan keluarga sang kakek.
Ayahnya hidup di jalanan dan pasar yang keras, beliau menghadapi dunia tanpa perlindungan. Ayah jatuh, terluka, dan hampir menyerah. Tapi dari luka itulah, Ayahnya mulai bangkit.
Karena bagi Ayahnya tidak ada kata kasih dan sayang, itu hanya omong kosong milik mereka yang kaya.
Umar, luka terbesarnya bukan berasal dari dunia luar, melainkan dari rumah. . . tempat yang seharusnya mencintainya tanpa syarat.