Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #1

"Di Bawah Nama Besar Keluarga Al-Habsyi"

Orang-orang selalu mengira hidup di keluarga besar keturunan Arab berarti hidup dalam kehormatan, kekayaan, dan kebersamaan yang kuat. Mereka melihat nama “Al-Habsyi” sebagai simbol kemapanan. Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik nama besar itu, ada sejarah panjang tentang luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Segalanya bermula dari kakekku, Abdulallah Al-Habsyi.

Dulu, ia hanya seorang lelaki muda yang menikahi putri seorang pedagang kain terkenal di kawasan Pekojan, Semarang. Nenekku, Syarifah, berasal dari keluarga terpandang. Namun hidup mereka tidak pernah benar-benar tenang.

Kakek ikut mengelola usaha mertuanya, toko kain dan perlengkapan jahit yang ramai pembeli. Perlahan usaha itu berkembang. Tapi bersama kesuksesan, muncul pula bara kesombongan dan kecurigaan.

Orang bilang, urusan bisnis sering kali lebih tajam dari pisau.

Entah bagaimana awalnya, kakek dan mertua laki-lakinya mulai berselisih paham. Soal pembagian keuntungan. Soal keputusan usaha. Soal siapa yang lebih berhak atas nama besar keluarga.

Pertengkaran demi pertengkaran terjadi.

Sampai suatu hari, di tengah toko yang biasanya penuh pelanggan, suara mereka meninggi. Kata-kata berubah menjadi dorongan. Dorongan berubah menjadi perkelahian. Harga diri lelaki-lelaki Arab yang keras kepala itu tak lagi bisa ditahan.

Hari itu bukan hanya kehormatan yang jatuh.

Rumah tangga kakek dan nenekku ikut runtuh.

Perceraian terjadi. Nenekku kembali ke keluarganya. Kakek pergi membawa harga diri yang remuk. Yang tertinggal hanya dua anak laki-laki kecil, ayahku, Abdul Rahman, dan adiknya, Salim.

Dua anak yang belum mengerti mengapa ayah dan ibunya tak lagi duduk bersama.

Ayahku sering bercerita, masa kecilnya sunyi meski rumah penuh orang. Ia diasuh pamannya, adik dari kakek, Paman Yusuf, seorang pedagang perlengkapan jahit yang kemudian membuka toko sendiri. Sementara kakek dan nenek masing-masing menikah lagi, membangun keluarga baru.

Beberapa tahun kemudian, kakek dikaruniai lima anak dari istri barunya, dua laki-laki dan tiga perempuan. Rumah besar keluarga Al-Habsyi kembali ramai. Tapi ayahku dan Paman Salim tidak pernah benar-benar merasa menjadi bagian dari keluarga mereka.

Mereka adalah anak dari pernikahan pertama, anak dari sejarah yang ingin dilupakan.

Ayahku tumbuh menjadi pemuda pendiam. Ia bekerja keras di toko Paman Yusuf sejak remaja. Tangan kasarnya hafal cara menimbang benang, menghitung meteran kain, dan menyusun jarum jahit di etalase kaca.

Sedangkan Paman Salim memilih jalan berbeda. Ia merantau ke Arab Saudi menjadi pekerja bangunan. Ia pergi dengan tekad membuktikan bahwa ia tak kalah dari siapa pun.

Lihat selengkapnya