Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #2

Semua Bermula dari Luka Abbah

Dulu, sebelum hidup berubah sekeras batu yang dihantam palu berkali-kali, Abbah selalu menjadi orang pertama yang membuka pagi. Seusai salat subuh, beliau akan mengenakan kemeja lusuh kesayangannya, menyisir rambut seadanya, lalu berjalan menuju toko milik Paman Yusuf di pasar kota. Langkahnya tenang, namun penuh tanggung jawab. Orang-orang di pasar mengenalnya sebagai pribadi disiplin, jujur, dan tidak pernah mempermainkan amanah.

Bertahun-tahun beliau mengabdikan hidupnya di toko itu. Bahkan sebelum toko tersebut berkembang besar, Abbah sudah ada di sana, membantu dari nol, mengatur barang, melayani pelanggan, hingga dipercaya penuh mengelola seluruh toko ketika pemiliknya bepergian. Paman Yusuf sendiri pernah berkata di depan banyak orang, “Kalau tidak ada Abdul Rahman, toko ini mungkin tidak akan sebesar sekarang.”

Kalimat itu dulu menjadi kebanggaan bagi Abbah.

Namun hidup sering kali berubah bukan karena orang asing, melainkan karena darah daging sendiri.

Adik Abbah, Paman Sarif, mulai merasa iri melihat kepercayaan besar yang diberikan kepada kakaknya. Sedikit demi sedikit, rasa hasad tumbuh di dalam dirinya. Ia mulai memengaruhi Paman Yusuf dengan ucapan-ucapan halus yang menusuk.

“Bang Dul sekarang sudah tidak sekuat dulu.”

“Kalau toko terus diserahkan ke dia, nanti usaha ini susah berkembang.”

“Bukankah lebih baik cari orang baru yang lebih muda?”

Awalnya Paman Yusuf hanya diam. Namun bisikan yang diulang terus-menerus akhirnya berubah menjadi keyakinan. Sampai pada suatu pagi, ketika matahari bahkan belum sepenuhnya tinggi, Paman Yusuf memanggil Abbah ke ruang belakang toko.

Tidak ada amarah. Tidak ada bentakan.

Hanya satu kalimat pendek yang mengubah seluruh hidup Abbah.

“Aku rasa… kamu istirahat dulu, Dul.”

Kalimat itu terdengar lembut, tetapi menghancurkan hati seseorang yang selama bertahun-tahun hidup untuk menjaga toko tersebut.

Abbah terdiam.

Beliau paham, “istirahat” bukan benar-benar istirahat. Itu adalah cara halus untuk mengatakan bahwa dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi.

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Abbah pulang lebih cepat. Langkahnya berat. Matanya merah menahan air mata. Di rumah, Ummi hanya bisa diam melihat wajah suaminya yang hancur tanpa kata.

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada disingkirkan dari tempat yang selama ini dianggap rumah sendiri.

Apalagi semua itu terjadi karena hasutan adiknya sendiri.

Sejak hari itu, permusuhan mulai tumbuh di antara mereka. Abbah merasa harga dirinya diinjak-injak. Lebih sakit lagi, Kakek justru cenderung membela Paman Sarif, anak dari pernikahan keduanya. Abbah yang selama ini berjuang sendiri justru dianggap berlebihan.

“Sudahlah, Rahman. Mungkin memang sudah waktunya kamu berhenti,” kata Kakek suatu hari.

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pemecatan itu sendiri.

Abbah mulai menjauh dari keluarganya. Bukan karena benci, melainkan karena terlalu lelah untuk terus terluka. Beliau memilih memendam semuanya sendirian.

Hari-hari berikutnya menjadi sangat berat.

Setiap pagi Abbah tetap pergi ke pasar, tetapi bukan lagi sebagai pekerja tetap. Beliau hanya berjalan tanpa tujuan jelas, duduk di sudut-sudut toko sambil berharap ada orang yang membutuhkan tenaganya. Kadang membantu mengangkat barang hanya demi mendapat uang receh untuk membeli beras.

Harga diri seorang laki-laki perlahan runtuh ketika ia tidak mampu membawa pulang kepastian untuk keluarganya.

Namun Abbah bukan orang yang mudah menyerah.

Walaupun hatinya penuh luka, beliau tetap berusaha berdiri.

Sampai akhirnya Allah mempertemukan Abbah dengan seorang dermawan yang iba melihat keadaannya. Orang itu menawarkan pinjaman modal agar Abbah bisa memulai usaha sendiri.

Abbah menangis malam itu.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena setelah sekian lama merasa ditinggalkan, masih ada orang yang percaya dirinya mampu bangkit.

Dengan modal sederhana, Abbah membuka toko kecil yang menjual perlengkapan menjahit, usaha yang sama seperti tempat beliau dahulu bekerja. Beliau memahami dunia itu luar dalam. Dari jenis benang, jarum, kain, hingga kebutuhan para penjahit kecil, semua sudah melekat di kepalanya sejak lama.

Toko kecil itu berdiri sederhana.

Dindingnya sempit.

Atapnya bocor di beberapa bagian.

Lihat selengkapnya